Showing posts with label cermin. Show all posts
Showing posts with label cermin. Show all posts

Saturday, April 23, 2022

Senja di pelukmu

Surya perlahan memasuki horizon di ufuk barat. Langit bagai selembar kanvas raksasa dilatari warna jingga kemerah - merahan pada dasarnya, lalu bergradasi dengan warna abu - abu dan biru tua. Gumpalan gumpalan awan seperti kapas tersebar diseluruh permukaan langit.

 

Jangan ada Matahari

Pada wanita berparas manis itu, hatiku bertaut.  Berhenti disana dan tak dapat melihat atau mendengar yang lain.  Hatiku bagai tawanan yang terikat tanpa paksaan.

 

Pengabdian yang begitu total, begitu utama hingga menyerupai pemujaan.  Kesetiaan yang terlahir hampir tanpa dorongan kecuali hati.  Begitu saja.  Seperti lumut di bebatuan lembab yang tumbuh begitu saja.  Tanpa bibit yang sengaja ditanam, tanpa pupuk yang sengaja ditaburkan.  Tumbuh begitu saja.  Tak perlu repot memikirkan bagaimana agar kesetiaanku selalu ada, selama dalam suhu yang sama, hal itu akan selalu ada.  Satu-satunya hal yang dapat menghapusnya adalah ’ketidakinginan’mu.  Itulah kesetiaanku.

 

Monday, March 15, 2021

Burung

seekor burung terbang sendiri mencari mangsa untuk mengisi perut anak-anaknya.  ditengah perjalanan, badai besar menghadangnya.  tubuh ringannya tak mampu menghindari badai tersebut.  tubuhnya terlempar menabrak tebing batu.  tak berdaya, ia jatuh diatas tanah keras.  burung itu  tak bergerak.

dia teringat dengan anak-anaknya, apakah mereka aman dari badai? burung itu ingin segera terbang menuju anak-anaknya, memastikan mereka aman.  sayangnya dia tak mampu, sayapnya remuk. dia hanya bisa berkedip.

selama berjam-jam dia hanya bisa diam. hujan turun membasahi sayapnya yang telah rusak.  menggigil, dia teringat dengan anak-anaknya, apakah hujan membuat mereka basah dan kedinginan? burung itu ingin segera bangkit, memastikan anak-anaknya baik-baik saja. 

jam berganti hari. semut-semut mulai mendatangi burung itu. satu -dua ekor berubah menjadi sekoloni.  burung itu berusaha mengepakkan sayapnya untuk mengusir para semut.  apa daya kepakan itu hanya serupa detak jantung yang menggerakkan dada.  

burung berfikir, sepertinya mati lebih mudah baginya.  cukup dengan diam, tak melakukan apa-apa.   semut-semut lain mulai mengerumuninya.  burung teringat anak-anaknya lagi, bagaimana jika mereka diserang hewan-hewan pemangsa. mereka terlalu kecil untuk bisa menyelamatkan diri.

sang burung tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk bergerak. satu sayap yang tak terluka mengepak-ngepak lebih keras.  kerumunan semut terurai.  burung itu berusaha menggerakkan tubuh dah berdiri diatas dua kakinya dengan bantuan sayapnya yang tak terluka.  berhasil.

burung mulai berjalan kecil.  kepakan sayapnya berhasil membuat para semut kocar-kacir.  burung memaksakan diri terbang dengan satu sayap, namun gagal.  dia hanya bisa melompat-lompat kecil.

sang burung terseok-seok melompat menuju pohon dimana anak-anaknya bersarang.  terkadang dia terjatuh, tapi memikirkan anak-anaknya membuatnya bangkit dan berjalan kembali.

pohon itu sudah didepan mata.  burung mendongak menatap sarang yang masih berada ditempatnya.  dia lalu berusaha menaiki pohon dengan cakar dan satu sayapnya.  dia terjatuh- dan terjatuh lagi.  lukanya bertambah besar, namun begitu juga semangatnya.  kini dia menggunakan paruhnya juga untuk mencapai dahan pertama.  setelah usaha berulang-ulang akhirnya dia berhasil mencapai dahan itu. lalu dia melompat-lompat hingga akhirnya sampai di sarangnya.

begitu bahagia burung itu melihat anak-anaknya masih berada di sarangnya. lengkap, 3 ekor anak burung.  

yang dingin. tak bergerak.


Saturday, April 1, 2017

Bintang




Malam begitu cerah.  Ratusan mungkin ribuan bintar berkerlip di hamparan langit gelap luas.  Tanpa bisa ditahan, hatiku bertanya, "Tuhan, adakah satu diantara ribuan bintang itu yang Kau cipta untukku?"  Seolah menjawab pertanyaanku, seseorang mengagetkanku, sambil ikut berbaring di atas rumput lembut di sebelahku

"Ingin kuambilkan satu bintang untukmu?".  Kupalingkan pandanganku pada lelaki disebelahku.  Dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.  Kuputar kepalaku, kembali memandangi langit dan melipat kedua tangan dan meletakkan di bawah kepalaku.  Kubuat diriku senyaman mungkin.

"Kamu ambil saja untuk dirimu sendiri"  Aku menjawabnya dengan dingin.  Dia lalu tertawa, serak.

"Tau nggak, Tuhan tu sebetulnya menciptakan bintang-bintang itu untuk kita para manusia.  Masing-masing satu.  Bintang itu menjelma menjadi manusia juga seperti kita.  Terserah Tuhan kapan dan bagaimana Ia akan menemukan kita dengan Bintang tersebut"

"Apakah Bintang itu akan membuat kita bahagia?"

"Tentu saja.  Ketika kamu sudah bertemu Bintang yang dikirim Tuhan, kamu akan bahagia.  Kamu akan tahu bahwa orang itu adalah Bintang tersebut.  Hatimu yang akan memberitahumu"

"Jika aku pernah kehilangan Bintang, akankah Tuhan akan memberikanku Bintang yang baru?"

"No.. itu artinya itu bukan Bintang yang dimaksudkan Tuhan untukmu.  Dan Ya, tentu saja Tuhan akan memberikan Bintang untukmu"  Aku seperti anak kecil yang kehilangan mainan, dan dia sedang menghiburku dengan menceritakan sebuah dongeng.  Kekanak-kanakkan, tapi tetap saja, aku merasa sedikit senang karenanya.

Aku mendengar suara gesekan jaket, Meski mataku memandang langit, aku tahu sepasang mata lain tengah memandangiku.


Tidakkah kau sadar, bintang itu ada di sampingmu.  Hingga kapan kau menutup mata hatimu? 
Tidakkah kau sadar, bintang itu ingin kau melihatnya. Karena kaulah bintang baginya.  


~Rain






Wednesday, March 29, 2017

Hingga kamu menyadari

Ketika mendapati bahwa berpisah adalah satu-satunya pilihan, kamu akan berkata "Tidak apa.  Aku mengerti".  Ego akan mendorong bibirmu untuk berucap lebih cepat daripada hatimu yang akan merasakan kehilangan, beberapa saat kemudian.

Ketika kamu bertemu dengan kesendirian, kenangan bersamanya akan mengepungmu. Membombardirmu tanpa ampun, lalu mengisolasimu dari dunia untuk beberapa waktu.

Kamu akan merana.  Hatimu berdarah teriris-iris sesuatu yang disebut kenangan.

Selama beberapa waktu kamu akan seperti itu.  Hingga kamu menyadari...

Berkutat dengan kenangan tidak akan merubah yang telah terjadi. Tidak juga akan merubah keadaan.
Kamu tidak bisa memaksakan orang yang kau kenang itu untuk mengingat dengan cara yang sama denganmu.  Juga tidak bisa memaksakan ia untuk merasakan hal yang sama ketika mengingat kenangan itu.

Dan kamu akan menyadari, Betapa menyedihkannya dirimu.  Karena melepas kenangan itu, kamu tak mampu.


Saturday, January 25, 2014

Ketika kau tak di sisiku suatu hari nanti

 Ketika kau tak di sisiku suatu hari nanti

Mungkin aku akan merasa sedih jika suatu hari aku tak sengaja mendengar lagu yang biasa kita nyanyikan bersama.  Aku mungkin akan memasang muka melas dan meminta orang untuk mematikan sumber suara itu.  Atau sebaliknya aku akan memasang muka garang, dan menyuruh orang yang menyanyikannya untuk menutup mulutnya.  Lalu aku akan pergi menjauh dari situ.
Tapi kau tau, lagu itu tetap terdengar dalam kepalaku.

Mungkin aku akan merasakan getar pedih ketika melewati jalan yang pernah kita lewati bersama. Aku mungkin akan memacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi agar segera melaluinya.  Atau aku mungkin akan berbalik dan memilih jalan lain.
Tapi kau tau, kenangan di jalan itu tetap berputar-putar dalam kepalaku.

Mungkin aku akan merasa cemburu pada rokok yang kau hisap, pada gitar yang kau petik, pada kopi yang kau sesap, pada udara yang kau hirup karena boleh berada di sekitarmu. Lalu aku akan menggerutu dan mengomeli diriku sendiri, karena berharap rokok yang kuhisap, gitar yang kupetik, kopi yang kusesap dan udara yang kuhirup adalah kamu.
Tapi kau tau, kau adalah segalanya bagiku.

Mungkin aku akan merasa seolah mau mati ketika nanti melihat seseorang yang lain berada di sisimu. Bahkan hanya sekedar membayangkannya saja membuatku mengepalkan tangan.  Kuharap Tuhan menahanku jika nanti aku akan berbuat bodoh, seperti menonjok muka orang lain itu, contohnya.  Ya! Tuhan akan menahanku, dan para malaikat akan berbisik padaku bahwa kau bahagia bersama orang itu.  Dan aku akan tersenyum pada kalian yang tidak melihatku.
Tapi kau tau, aku selalu menginkanmu

Mungkin aku akan marah pada ‘entah aku tak tau’, karena telah menciptakan jurang antara aku dan kamu.  Mungkin aku akan merasa uring-uringan selama beberapa waktu setiap kali mengingat betapa aku atau kamu tak mampu melewati jurang itu.  Tapi lalu aku akan merasa baik-baik saja sesudahnya dengan berfikir bahwa kau juga akan baik-baik saja.
Tapi kau tau, aku tak akan pernah baik-baik saja tanpamu.


Mungkin aku akan menangis ketika menemui saat-saat itu.
  
Ketika aku merindukanmu.  Ketika kau tak di sisiku.  Ketika kau jauh dariku.

Ketika saat itu adalah.. sekarang.


~J


                            



Friday, July 19, 2013

Satu hal yang kusadari kini...

Belakangan ini aku mulai menyadari harga yang telah kubayar selama beberapa lama aku menyendiri. Dengan berlalunya waktu, aku terlalu terbiasa hidup sendiri.  Namun akhir-akhir ini aku mulai merasakan adanya perbedaan.  Perbedaan yang menjadi sangat jelas tepat saat aku sadar bahwa aku tak lagi suka sendiri seperti aku suka ketika aku bersama dengan orang lain.  Itulah ketika kesendirian berubah menjadi kesepian.

Aku menyukai kesendirian.  Bukan berarti aku membenci keramaian. Ada rasa nyaman dalam sendiriku, yang tidak aku dapatkan ketika jika aku berada bersama orang lain.  Aku selalu menyendiri dan mulai terlalu terbiasa dengan kesendirian itu.  Hingga lalu dia datang.

Dia seperti berember-ember cat warna-warni yang ditumbahkan ke atas langitku yang kelabu.  Yang kemudian cerianya mengalir ke bawah, meresap hingga celah-celah bumiku yang tak terlihat.  Aku tidak pernah mengetahui bahwa berbicara pada manusia lagi terasa seenak ini.  Aku bukan orang yang suka bicara, tapi aku merasa tatapanya begitu istimewa ketika memperhatikan hal yang keluar dari mulutku.   Bahkan yang paling sepele sekalipun.  Meskipun sangat sedikit, aku tak lagi begitu takut berkata-kata.

Hal lain yang aku telah begitu lama tidak melakukannya.  Tertawa.  Dia, wanita bertubuh kecil yang memiliki selera humor yang aneh yang seolah tak pernah kehabisan ide yang selalu berhasil membuatku tertawa. Dan aku mulai selalu memikirkan dia setiap kali aku rindu tertawa.  

Dia membuatku menyadari hal yang kupikir aku tak mampu lagi melakukannya.  Merasa.  Ya, dia membuatku kembali merasa. Ada semacam nyeri dalam hati ketika aku merasa sangat ingin melihat atau mendengar suaranya.  Atau sesuatu yang seperti jarum menusuk-nusuk hati ketika dia tertawa-tawa dan berada begitu dekat dengan pria lain, dan aku hanya bisa diam melihatnya.  

Kemudian ada rasa lain.. yang lembut seperti gumpalan awan bertebaran dalam diri ketika kemudian dia mendekat dan tersenyum padaku.. mengatakan bahwa dia rindu.  Sebuah kata keramat yang bagiku membutuhkan usaha keras demi untuk dapat mengucapkannya.. dan dia menyampaikannya dengan seringan kapas.  Ah, aku iri padanya.. andai aku bisa seterbuka itu.

Dan satu yang tak dapat kuabaikan.. rasa yang sangat-sangat menggangguku.. Kuingat ketika ia berlari-lari kecil menyusulku, meraih tangan kananku. Ia genggam telapak tanganku dengan jemarinya yang hangat dan ia peluk lenganku erat-erat.  Ada rasa terbakar ketika tubuhnya terasa begitu dekat denganku.  Dan wanginya tak juga hilang bahkan ketika akhirnya ia berlalu pergi.  Argh.. Aku tak mengerti.. rasa apa ini..

Satu hal yang kusadari kini.  Aku tak lagi suka sendiri.


~J



Monday, March 18, 2013

Buku kita




Bukumu, yang kau bilang telah kau tutup rapat rapat sejak kau memutuskan untuk bersama denganku, entah mengapa hatiku selalu  berdesir ketika melihatnya.

Bukumu, terlihat tebal dengan sampul berwarna gelap.  Hatiku sering kali bertanya-tanya tentang apa warna dari lembar demi lembar yang terdapat pada buku tersebut. 
Apakah sebiru samudra? Ataukah kuning secerah matahari? 
Mungkinkah semerah planet-planet di antariksa raya? Ataukah hitam segelap malam?
Uh.. sepertinya yang muncul dibenakku adalah warna yang tak kukenal.. warna yang asing.

Bukumu, terdengar sangat sunyi.  Hatiku sering kali bertanya-tanya tentang bagaimana lembar demi lembar dari buku itu terdengar.  Lagu apa yang mengalun dari tiap Bab buku tersebut?
Apakah lagu yang sama dengan kini aku dengar bersamamu? Apakah lagu yang lebih indah? lebih sendu? apakah lagu yang lebih ceria? 
Uh.. Sepertinya yang terdengar olehku adalah lagu yang tak kukenal.. lagu yang asing

Sudah menjadi sifatku menjadi seorang yang selalu ingin tahu.  Sunggu sifat yang tak bagus, bukannya aku tak tahu.  Ah, andai kau tau bagaimana sulitnya mengabaikan rasa itu. Tapi kurasa aku berhasil untuk menahannya agar rasa itu hanya berdiam dalam hati saja. Tidak mencuat kemana-mana.  

Jadi aku mohon padamu, janganlah kau bawa-bawa terus buku itu.  Bicarakanlah denganku hingga mati rasa ingin tahuku. Atau.. jika kau tak mampu, simpan dengan baik dan letakkan dia pada tempatnya.  Kau kini memiliki buku baru denganku. Mari mengisinya bersama.  Mungkin tidak selalu berisi lukisan berwarna cerah dan merah muda, tapi aku yakin kita akan membuatnya menjadi sesuatu yang indah.  Mungkin tidak selalu teriringi dengan lagu-lagu roman penuh kata cinta, tapi aku yakin kita akan membuatnya terdengar indah.
Kau akan mengisinya dengan sesuatu yang baik.  Seperti hatimu.


~J


Monday, February 25, 2013

Seperti yang kau mau..


Ada kalanya aku tak peduli dengan ribuan alasan yang melarang hatiku untuk menyayangimu. Karena meskipun sekuat tenaga aku menanamkannya di kepalaku, ia hilang seperti buih begitu aku melihatmu tersenyum seperti itu.  Bagaimana jika kau rubah saja senyummu biar tidak seindah itu? Mungkin kau tidak tau, tapi tawamu, ia mampu menghentikan bumi.  Meski hanya sekian detik, tak ada yang lain di alam ini yang mengisi kepalaku, kecuali kamu.

Saturday, February 9, 2013

I miss you


Hembusan angin itu seperti sebuah kebetulan, yang membuat halaman lama dari bukuku terbuka.  Hingga aku, mau tak mau, harus membacanya.

Sunday, January 27, 2013

Keping terakhir


Bagai keping terakhir dari puzzle rumit yang telah kutekuni selama sekian lama waktu. Aku tak mampu meletakkan keping tersebut, karena itu berarti aku “selesai” dengan puzzle itu.  Tak mampu juga aku memporanda puzzle yang selangkah menuju sempurna lalu memulai lagi dari awal.  Terlalu sayang.  Itu sama saja aku kehilangan.

Saturday, January 12, 2013

Betapa aku ingin tau tentang kamu

Apa yang aku rasa tidak selalu sama dengan yang kau rasa. Apa pendapatku belum tentu menjadi pendapatmu.  Apa kamu bagiku, mungkin berbeda dengan apa aku bagimu.  Apa yang yang kurasa jika kau tak ada, bisa jadi berbeda dengan apa yang kau rasa jika aku tak ada.

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...