Ada kalanya aku tak peduli dengan ribuan alasan yang
melarang hatiku untuk menyayangimu. Karena meskipun sekuat tenaga aku
menanamkannya di kepalaku, ia hilang seperti buih begitu aku melihatmu
tersenyum seperti itu. Bagaimana jika
kau rubah saja senyummu biar tidak seindah itu? Mungkin kau tidak tau, tapi
tawamu, ia mampu menghentikan bumi.
Meski hanya sekian detik, tak ada yang lain di alam ini yang mengisi
kepalaku, kecuali kamu.
Hhh.. ingin memukul kepalaku sendiri supaya aku tersadar dan
kembali mengendalikan rasa yang hampir meledak dari jantungku. Mengendalikan keinginan untuk berteriak di
telinga imutmu itu bahwa aku sayang.. sangat sayang padamu.
Aku berusaha menganalisa, mengapa aku begitu bahagia ketika
melihatmu tertawa. Ah ya, karena aku
mengingat saat ketika kau menangis. Kau
terlihat sangat menyedihkan. Hatiku
terasa amat sakit ketika itu, andai saja kau tau. Dan diam-diam aku memerintahkan diriku
sendiri untuk tidak menjadi seseorang yang akan membuatmu bersedih. Aku akan menemukan ribuan cara untuk
membuatmu tersenyum. Lihat saja.
Ah.. tapi entah
mengapa aku merasa hidup ini rumit sekali.
Besarnya rasa sayangku padamu berbanding lurus dengan logikaku yang
mengatakan untuk tidak terjerumus perasaan tersebut. Hampir gila rasanya. Karena kau terasa begitu dekat. Begitu mudah untuk diraih. Beruntung sekali logikaku masih cukup kuat
untuk mengikat lenganku agar tidak nekat
memelukmu.. dan..
Sering kali, meskipun aku sangat senang dapat melihatmu,
tapi aku akan merasa terselamatkan ketika kau akhirnya berlalu dari
hadapku. Fiuuuh… Seriously, ini rumit.. namun menyenangkan. Bermain petak umpet dengan rasaku
sendiri.
Aku berharap logika yang mengendalikan ini semua dan
bukannya rasa. Karena kupikir kau juga
akan senang dengan hal tersebut. Aku
tidak ingin kamu tertawa dan mengatakan
aku gila jika akhirnya kau mengetahui perasaanku ini. Aku juga takut kamu akan pergi jika kau
mengetahuinya.
Jadi aku akan
membiarkannya seperti ini, sampai nanti kau yang memintanya sendiri. Jadi selama itu belum terjadi.. aku akan
menjadi temanmu. Persis seperti yang
–kupikir- kau maui.

No comments:
Post a Comment