Monday, February 25, 2013

Seperti yang kau mau..


Ada kalanya aku tak peduli dengan ribuan alasan yang melarang hatiku untuk menyayangimu. Karena meskipun sekuat tenaga aku menanamkannya di kepalaku, ia hilang seperti buih begitu aku melihatmu tersenyum seperti itu.  Bagaimana jika kau rubah saja senyummu biar tidak seindah itu? Mungkin kau tidak tau, tapi tawamu, ia mampu menghentikan bumi.  Meski hanya sekian detik, tak ada yang lain di alam ini yang mengisi kepalaku, kecuali kamu.


Hhh.. ingin memukul kepalaku sendiri supaya aku tersadar dan kembali mengendalikan rasa yang hampir meledak dari jantungku.  Mengendalikan keinginan untuk berteriak di telinga imutmu itu bahwa aku sayang.. sangat sayang padamu. 

Aku berusaha menganalisa, mengapa aku begitu bahagia ketika melihatmu tertawa.  Ah ya, karena aku mengingat saat ketika kau menangis.  Kau terlihat sangat menyedihkan.  Hatiku terasa amat sakit ketika itu, andai saja kau tau.  Dan diam-diam aku memerintahkan diriku sendiri untuk tidak menjadi seseorang yang akan membuatmu bersedih.  Aku akan menemukan ribuan cara untuk membuatmu tersenyum.  Lihat saja.

Ah.. tapi  entah mengapa aku merasa hidup ini rumit sekali.  Besarnya rasa sayangku padamu berbanding lurus dengan logikaku yang mengatakan untuk tidak terjerumus perasaan tersebut. Hampir gila rasanya.  Karena kau terasa begitu dekat.  Begitu mudah untuk diraih.  Beruntung sekali logikaku masih cukup kuat untuk mengikat  lenganku agar tidak nekat memelukmu.. dan..   

Sering kali, meskipun aku sangat senang dapat melihatmu, tapi aku akan merasa terselamatkan ketika kau akhirnya berlalu dari hadapku.  Fiuuuh… Seriously,  ini rumit.. namun menyenangkan.  Bermain petak umpet dengan rasaku sendiri. 

Aku berharap logika yang mengendalikan ini semua dan bukannya rasa.  Karena kupikir kau juga akan senang dengan hal tersebut.  Aku tidak ingin kamu  tertawa dan mengatakan aku gila jika akhirnya kau mengetahui perasaanku ini.  Aku juga takut kamu akan pergi jika kau mengetahuinya.  

Jadi aku akan membiarkannya seperti ini, sampai nanti kau yang memintanya sendiri.  Jadi selama itu belum terjadi.. aku akan menjadi temanmu.  Persis seperti yang –kupikir- kau maui.


~J

pict taken from here

No comments:

Post a Comment

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...