Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sunday, September 22, 2024

aku terisi



dia seperti berember-ember cat berwarna-warni
yang tumpah di atas langitku yang suram
kemudian keceriaan mengalir perlahan 
meresap masuk ke retakan bumiku yang terdalam
 
aku tidak pernah mengetahui
bahwa berbicara bisa terasa seenak ini
aku senang ketika menyadari
bahwa didengar bisa terasa sangat berarti
 
tatapanya begitu istimewa
matanya berbinar ketika aku tertawa 
dan satu hal yang kusadari kini
aku tidak lagi merasa sendiri

~j
 

Thursday, September 19, 2024

tidak

aku tidak merindukanmu
aku rindu bagaimana perasaanku saat bersamamu

aku rindu rasa dipedulikan
aku rindu rasa seolah akhirnya seseorang melihatku
aku rindu rasa menjadi perempuan sepenuhnya 

aku rindu rasa dicintai
aku rindu rasa seolah aku boleh berharap
aku rindu rasa  seolah aku boleh berbahagia

tapi, kamu...
tidak.. aku tidak merindukanmu


Tuesday, September 17, 2024

aku ingin

aku ingin membungkamnya
suara-suara di dalam kepala
yang tak pernah mau diam
terus bergerak berputar-putar

aku ingin membunuhnya
rasa yang bermunculan dalam dada
yang tumbuh tanpa aku minta
terus berkembang dengan liar

aku membencinya
aku tidak menyukainya
aku takut padanya
aku ingin lepas darinya

tolong aku

~j




porak poranda

ketika yang aku takutkan, benar-benar terjadi.

ada gempa mengguncang tubuhku
berpusat pada tengah-tengah dadaku
membelah isi nya begitu dalam
dan meninggalkan retak begitu panjang

semua bagian tubuhku porak poranda
serpihannya terserbar dimana-mana
satu tempat dengan kerusakan terparah
kepalaku yang kini kehilangan logika.

~j

Friday, September 6, 2024

matahari malam

gelap yang terlihat begitu terang benderang
pada tengah malam kutemukan matahari
aku tenggelam hingga hampir hilang 
dalam kepalsuan yang aku ciptakan sendiri

perjalan yang aku pikir telah aku tempuh
rupanya tak pernah dekat dengan kata jauh
bintang berwarna warni yang baru aku lihat
hanyalah serpihan sepi yang terpoles mimpi

gamang yang menggelikan
terjaga sudah tertampar kesadaran
cukup sudah tertipu delusi penuh kehangatan
tertawa.. kupeluk erat hal yang kusebut kesendirian

~j

Thursday, August 29, 2024

jiwa kerdil

kamu tidak mengerti
jadi jangan menghakimi
kamu tidak mengalami
jadi jangan merasa paling memahami

kakimu tidak ada di sepatunya
kamu pikir semua seperti yang diotakmu
lepas dulu kacamata kudamu
keluar dari tempurung sempitmu

jiwa kerdil yang bersembunyi
pada imajinasi seluas galaksi
butuh pukulan keras untuk membuatmu membuka mata
isi otakmu bukanlah isi dunia
~J



Monday, August 26, 2024

sebentar

ini sederhana.  tapi rumit.
ada keresahan yang begitu meresahkan.
berputar-putar di kepala
lalu merayapi isi dada tiada henti

lalu hanya bisa diam berdiri
mengatur nafas jantung dan hati
yang baru saja hidup kembali
dan bersiap untuk mati lagi

~j


Wednesday, November 16, 2022

Kunci Kendali

Karena kesenangan dan kesedihan datang silih berganti
Mereka yang datang dari luar
Menempel pada lingkaran hidup. 
Berputar, bergulir dan menggelinding

Perlu menjadi kuat agar tak goyah
Dengan begitu roda tak akan patah
dan lingkaran itu tidak akan terjatuh

Ketika kesedihan itu datang
Kendalikan diri untuk menjadi tenang
Meskipun ada  sedikit gelombang
Lingkaran itu akan bertahan dan tetap berputar

Dan ketika kebahagiaan itu hadir bersama keberhasilan atau pujian
Kendali yang sama akan dibutuhkan untuk tetap tenang
Dengan begitu roda akan tetap berputar pada arah yang benar
Tidak tersesat pada gempita yang sering kali membuat terlena

Dengan cara masuk  ke dalam. Menguatkan inti.
Kembali kepada pusat. Memegang erat kunci kendali.





Saturday, April 23, 2022

Senja di pelukmu

Surya perlahan memasuki horizon di ufuk barat. Langit bagai selembar kanvas raksasa dilatari warna jingga kemerah - merahan pada dasarnya, lalu bergradasi dengan warna abu - abu dan biru tua. Gumpalan gumpalan awan seperti kapas tersebar diseluruh permukaan langit.

 

Sunday, June 6, 2021

lupa

bukankah kau akan mencari cahaya ketika gelap datang?
seperti kamu mencari payung ketika hujan
atau air yang kamu idamkan kala haus
selalu ada yang kau cari ketika sesuatu hilang
seperti matematika, dibutuhkan angka lebih untuk menyeimbangkan yang kurang.

aku ingin berfikir seperti itu. sesederhana itu.
mengabaikan bahwa sebetulnya aku tak peduli meski tak ada siang
aku tak keberatan meski hujan terus datang.
dan aku tahu matetika bukan hanya tanda tambah dan kurang.

sesuatu  yang bisa aku simpan dan putar setiap saat
gambaran indah bunga yang bermekaran di bawah sinar matahari pagi
namun pandanganku turun ke akarnya dan masuk terus jauh ke dalam 
gambaran gelap, pengap, sesak.. sesuatu yang  membusuk disana

bukankah aku hanya perlu menaikkan pandangan untuk melihat cahaya lagi?
ya, tapi tak ada rasa ingin. aku lupa caranya.


aku ingin mengingat cara ingin







Thursday, October 1, 2020

Seseorang dalam Mimpiku



Seseorang telah menemukan tujuannya
Dia berkata akan mulai perjalanannya
Aku melihat dia menjauh perlahan
Kunang-kunang menemani di sekitarnya
 
Dari jauh aku melihatnya
Cahaya terang mengelilinginya
Namun tak ada yang menemaninya
Aku tak dapat melihat raut wajahnya
 
Aku tak memahami tujuannya
Tapi aku menghargai pilihannya
dan dalam hati aku berdoa
Semoga ia bahagia



Tuesday, May 19, 2020

Terjebak

Seseorang berdiri di antara malaikat dalam hati dan iblis dalam kepala
Di atas sebuah area berwarna abu-abu, dipenuhi ragu.
Seseorang berdiri di antara benak yang takut dan tubuh yang sombong
Frustrasi bersenandung dalam nyanyian kemarahan.

Seseorang berdiri di antara timbunan ingin dan tumpukan batasan
kebebasan menari dalam gua yang terkunci kegelapan
seseorang yang mengantuk namun tertahan insomnia
dia tertawa dalam tangis.  Menangis sambil tertawa.

Dia lalu diam.  Menyerah pada sunyi yang damai mencekam.

Saturday, February 23, 2019

Menghitung Rindu


Biarkan aku menghitungnya

Aku menghitungnya pada cangkir-cangkir kosong
Kunikmati sayatannya pada setiap pekat yang terlewat
Aku menghitungnya pada batang-batang terbakar
Kuhirup sesaknya pada asap yang mengambang di udara

Aku menghitungnya pada detik yang berdetak
jantung yang bergerak.. deru  hati yang berderak
Lalu pada kertas-kertas yang kusut berserak
bisu pena yang tak mampu lagi berkata-kata

Aku menghitungnya pada sudut-sudut bidang lingkar

lalu meletakkannya pada setiap ujung dan pangkalnya

Oh, biarkan aku menghitungnya
nikmat yang sekaligus menyiksa..
rindu yang tak ada habis-habisnya..

~J



Saturday, January 26, 2019

KABUT

Aku sebentuk rasa yang menyublim
Menggeliat menyatu dengan angin
berhembus menyisip di sela-sela bukit
Lalu kuletakkan rasaku di situ
sesungguhnya aku rindu

       Aku kabut yang menuruni lembah
       menari dalam dingin tanpa suara
       tak ada yang tahu ada apa dibaliknya
       pada segunung isi hati kubisikkan kata
       akan kusimpan semua rahasia

Aku hujan yang menyapa langit
yang akhirnya jatuh kemudian mengalir
bergulung bersama gelombang menuju pantai
pada butiran pasir kutitipkan pesan
lupakan aku


~J
Jan '19

Saturday, September 1, 2018

Mengijinkan diriku menangis


Kupikir aku telah lupa
ternyata lupa hanyalah sementara
Hingga ingatan itu datang kembali
dan aku tak bisa lagi pura-pura lupa

Kupikir aku telah memaafkan
ternyata itu hanya ketika aku lupa
Hingga ingatan itu datang kembali
aku berharap kau merasakan apa yang kurasa

Kupikir aku baik-baik saja
rupanya itu karena aku melarang hatiku untuk merasa
Hingga aku tidak lagi bisa berpura-pura 
....

Malam ini aku akan mengingatmu
dan mengijinkan diriku menangis

~ J

Friday, December 1, 2017

Dia tak bisa berhenti

dia berjalan seorang diri
kekosongan memenuhi tubuhnya
hatinya telah terjatuh lalu hilang entah dimana
hanya raganya yang bergerak mengikuti arah angin

terkadang dia terjatuh tersandung bebatuan yang tak dilihatnya
dia mengusap lukanya, lalu berjalan lagi
terkadang dia kuyup oleh hujan yang turun tiba-tiba
dia menatap langit, lalu berjalan lagi

ketika tak ada angin berhembus
tubuhnya berputar-putar, tak tahu harus kemana
dia terus bergerak meski merasa lelah
dia tak bisa berhenti

karena jalanan itu terlalu sunyi
~J








Wednesday, November 2, 2016

Palsu

Merah di bibir, hitam di hati
Terang di permukaan, gelap di dalam
Gempita di depan, senyap di belakang
Diam di sini, berisik di sana

Bunga di ujung lidah, pisau di balik punggung
Madu di atas meja, racun di dalam lemari
Karpet merah digelar, jurang curam di ujungnya
Kulit sehalus bulu, ribuan silet di dalamnya

Senyum lembut itu menyimpan bisa
Berhati-hatilah

Kau bisa dibuat mati olehnya


~J

Monday, September 12, 2016

Sebelum kusempat memulihkannya





Seseorang dengan pandangan penuh luka

Mengulurkan tangannya padaku ketika kuterjatuh

Bibirnya tersenyum, namun tidak tatapannya

Tangannya menepuk bahuku, kemudian  ia pergi dan berlalu

Lalu ia datang kembali dan melihatku,

"Apakah kau peduli padaku?", tanyaku padanya.

"Aku hanya kebetulan lewat",  jawabnya.

Dan selalu begitu selama beberapa waktu.

Nyatanya ia  selalu ada ketika kumerana

Hingga aku terikat dan bergantung padanya

Dan mulai ingin menyembuhkan luka

yang tersimpan rapat di balik tatapannya

Namun ia tidak pernah mengijinkannya

Karena ia disini hanya untuk sementara

Seseorang dengan pandangan penuh luka,

Ia pergi sebelum kusempat memulihkannya



~J

Pict source

Thursday, September 1, 2016

Kala ketika aku




Ada kalanya aku menjadi seperti bukan aku
Ada kalanya aku bahagia dengan menjadi seperti bukan aku
Ada kalanya aku benci ketika menjadi seperti bukan aku
Ada kalanya aku tidak mengerti aku

Ada kalanya aku tidak peduli ketika itu terjadi
Ada kalanya aku takut aku tak mampu kembali
Ada kalanya aku bertanya-tanya bagaimana itu terjadi
Ada kalanya aku tidak mengerti aku

Lalu aku merindukan langit
Memandanginya hingga ia berubah warna
Dan mendengarnya berkata
“kamu adalah kamu… kapanpun kalanya..”























~J




Tuesday, August 9, 2016

Sesuatu yang kupikir tak lagi ada


Sesuatu yang kupikir tak lagi ada
Ternyata hanya tertidur sementara
Ia terbangun begitu mendengar tentangmu
Menggeliat dan dengan perkasa menguasai kesadaranku.

Haruskah aku mematikannya?
Padahal kau terlihat begitu dekat 
dan aku ingin meraihmu


Atau


Haruskah aku membuatnya terjaga?
Namun kau ibarat kupu-kupu
aku takut kau terbang dan lagi-lagi menghilang


...

Aku akan diam
aku akan menunggu
Ia akan bangun dan terjaga
hingga akhirnya kau akan datang padaku 





~J
Ketika kupikir langit berpelangi telah kuraih, aku tidak pernah tahu ada badai di balik awan itu. Kilat dan Guntur mengingatkanku untuk menjauh.


Wanita perparas pelangi bermata bidadari, aku tak bisa menyangkal bahwa aku telah jatuh padanya.  Dia yang suaranya, seperti nyamuk berdengung di sekitar telingaku.  Tak juga mau pergi meski aku menghalaunya berkali-kali.  Tawa manjanya menggangguku.  Tak nyenyakkan tidurku.  Dan ia mulai sering mengunjungi mimpi-mimpiku.

Ada satu waktu dimana aku sangat ingin mendekat dan membocorkan sedikit tentang apa yang kurasa untuknya.  Satu waktu ketika seolah dia begitu dekat dan mudah kuraih.  Ketika dia tertawa lepas dan berterimakasih padaku karena telah membuatnya begitu. Dan demi jenis badai apapun, aku ingin melakukannya terus, untuk membuatnya begitu.  Namun kurasa aku terlalu pengecut untuk berani bicara. Matanya menatap pria lain dengan cara yang kurasa sama dengan caraku menatapnya.  Pria lain itu.. sahabatku.

Kadang aku merasa menjadi manusia yang kurang beruntung.  Kupikir cinta itu manis seperti permen.. seperti madu.. Namun ternyata aku salah. Cinta itu pahit. Dan mungkin aku bertindak tolol dengan terus-menerus mencari rasa pahit itu.  Perih ketika melihatnya telah begitu dekat dengan sahabatku. Namun memilih mengabaikannya, karena setidaknya aku dapat melihat warna pelangi di wajahnya.  Pahit ketika melihat mereka terbungkus aura merah muda. Namun aku memilih menelannya, karena setidaknya aku dapat menatap mata bidadarinya.

Ada kalanya, ketika aku sedang sendirian, ribuan tanya “mengapa” berkelebat dalam benakku.
Mengapa harus dia?
Mungkin akan lebih mudah bagiku jika yang kucinta adalah wanita lain.
Mengapa harus sahabatku?
Mungkin akan lebih enteng bagiku memikirkan cara untuk merebutnya.
Mengapa harus cinta?
Mungkin aku tidak akan tersiksa oleh hasrat dan belenggu rasa ingin jika aku tidak merasakannya.
Mengapa aku tak bisa menatap wanita lain?
Mengapa dia seperti candu bagiku?
Mengapa aku begitu bodoh dan lemah jika menyangkut tentangnya?
Mengapa …? Mengapa..?

Dan ribuantanyaitu hanya berlalu tanpa aku mampu menganalisanyadan menemukan jawabnya.Aku yang bodoh ini, memutuskan untuk tetap menyimpan rasa ini untuknya.  Kupikir ia pantas untuk kutunggu. 

Aku mundur teratur dan memandangnya dari jauh.  Mematri hati dengan konsep bahwa rasaku untuknya akan tercukupi meski hanya dengan melihatnya tersenyum bahagia.  Ya, aku merasa cukup dengan hal tersebut.

Enam kali musim berganti, bersama angin kabar itu kudengar.  Bahwa kau sudah tak bersama sahabatku lagi.  Tanpa dapat kukendalikan, berita itu seolah membangunkan rasa yang lama tertidur dalam diri.  Setiap detail tentangmu bermunculan di kepalaku.  Wajahmu, senyummu, suaramu.  Aku menyadari, aku merindukanmu. Masih..






Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...