Tuesday, August 9, 2016

Sesuatu yang kupikir tak lagi ada


Sesuatu yang kupikir tak lagi ada
Ternyata hanya tertidur sementara
Ia terbangun begitu mendengar tentangmu
Menggeliat dan dengan perkasa menguasai kesadaranku.

Haruskah aku mematikannya?
Padahal kau terlihat begitu dekat 
dan aku ingin meraihmu


Atau


Haruskah aku membuatnya terjaga?
Namun kau ibarat kupu-kupu
aku takut kau terbang dan lagi-lagi menghilang


...

Aku akan diam
aku akan menunggu
Ia akan bangun dan terjaga
hingga akhirnya kau akan datang padaku 





~J
Ketika kupikir langit berpelangi telah kuraih, aku tidak pernah tahu ada badai di balik awan itu. Kilat dan Guntur mengingatkanku untuk menjauh.


Wanita perparas pelangi bermata bidadari, aku tak bisa menyangkal bahwa aku telah jatuh padanya.  Dia yang suaranya, seperti nyamuk berdengung di sekitar telingaku.  Tak juga mau pergi meski aku menghalaunya berkali-kali.  Tawa manjanya menggangguku.  Tak nyenyakkan tidurku.  Dan ia mulai sering mengunjungi mimpi-mimpiku.

Ada satu waktu dimana aku sangat ingin mendekat dan membocorkan sedikit tentang apa yang kurasa untuknya.  Satu waktu ketika seolah dia begitu dekat dan mudah kuraih.  Ketika dia tertawa lepas dan berterimakasih padaku karena telah membuatnya begitu. Dan demi jenis badai apapun, aku ingin melakukannya terus, untuk membuatnya begitu.  Namun kurasa aku terlalu pengecut untuk berani bicara. Matanya menatap pria lain dengan cara yang kurasa sama dengan caraku menatapnya.  Pria lain itu.. sahabatku.

Kadang aku merasa menjadi manusia yang kurang beruntung.  Kupikir cinta itu manis seperti permen.. seperti madu.. Namun ternyata aku salah. Cinta itu pahit. Dan mungkin aku bertindak tolol dengan terus-menerus mencari rasa pahit itu.  Perih ketika melihatnya telah begitu dekat dengan sahabatku. Namun memilih mengabaikannya, karena setidaknya aku dapat melihat warna pelangi di wajahnya.  Pahit ketika melihat mereka terbungkus aura merah muda. Namun aku memilih menelannya, karena setidaknya aku dapat menatap mata bidadarinya.

Ada kalanya, ketika aku sedang sendirian, ribuan tanya “mengapa” berkelebat dalam benakku.
Mengapa harus dia?
Mungkin akan lebih mudah bagiku jika yang kucinta adalah wanita lain.
Mengapa harus sahabatku?
Mungkin akan lebih enteng bagiku memikirkan cara untuk merebutnya.
Mengapa harus cinta?
Mungkin aku tidak akan tersiksa oleh hasrat dan belenggu rasa ingin jika aku tidak merasakannya.
Mengapa aku tak bisa menatap wanita lain?
Mengapa dia seperti candu bagiku?
Mengapa aku begitu bodoh dan lemah jika menyangkut tentangnya?
Mengapa …? Mengapa..?

Dan ribuantanyaitu hanya berlalu tanpa aku mampu menganalisanyadan menemukan jawabnya.Aku yang bodoh ini, memutuskan untuk tetap menyimpan rasa ini untuknya.  Kupikir ia pantas untuk kutunggu. 

Aku mundur teratur dan memandangnya dari jauh.  Mematri hati dengan konsep bahwa rasaku untuknya akan tercukupi meski hanya dengan melihatnya tersenyum bahagia.  Ya, aku merasa cukup dengan hal tersebut.

Enam kali musim berganti, bersama angin kabar itu kudengar.  Bahwa kau sudah tak bersama sahabatku lagi.  Tanpa dapat kukendalikan, berita itu seolah membangunkan rasa yang lama tertidur dalam diri.  Setiap detail tentangmu bermunculan di kepalaku.  Wajahmu, senyummu, suaramu.  Aku menyadari, aku merindukanmu. Masih..






No comments:

Post a Comment

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...