Saturday, February 16, 2013

Cahaya Maya



Seperti biasa, jam tiga sore para penghuni rumah melakukan rutinitas sehari-hari.
Sinta baru saja pulang dari sekolah.  Baju putihnya ia ganti dengan kaos bergambar barong berwarna merah, sedangkan rok abu-abunya tetap ia pakai.  Setelah makan ia bermain main dengan Maya di kamar.  Baru tiga puluh menit tapi tak kudengar lagi suara Sinta atau Maya.  Hanya suara nafas yang berat dan teratur milik Sinta.  Sinta sudah tertidur.

Sunar, sama saja.  Kerjaannya cuma tidur saja.  Rumah yang seharusnya Ia bersihkan dan rapikan tetap berantakan dan kotor.  Baju kotor masih menggunung di depan kamar mandi.  Di kursi panjang depan TV tubunya tengkurap.  Kepalanya menghadap ke arah meja ruang tamu.  Mulutnya merot terbuka terkena tekanan bantal.  Liurnya menetes keluar dari mulut merotnya bersamaan dengan suara dengkuran yang mengalahkan suara TV.


Sore berjalan seperti biasa.  Tak ada yang istimewa.  Lelah duduk-duduk saja lalu aku mondar-mandir berjalan-jalan di teras depan rumah yang tertutup pagar besi tinggi.  Pagar yang membatasi rumah ini dengan dunia luar.  Membatasi atau menutupi? Entahlah, sepertinya mereka lebih suka orang lain melihat hal yang baik-baik saja.  Dari luar orang hanya akan melihat rumah besar megah.  Pemiliknya tentu orang yang sukses.  Kaya raya dan bahagia.  Coba saja orang masuk kesini, yang ada hanya rasa dingin.  Dingin yang menyesakkan.  Pertengkaran terjadi hampir setiap hari.  Perdebatan tentang tak adanya tanggung jawab seorang suami dan sikap istri yang tidak sesuai kodrad.  Istri merasa lebih berhak mengatur keluarga karena Ia yang menjadi sumber pundi-pundi keuangan.  Sang suami merasa punya kuasa lebih besar untuk menjadi Jenderal dalam keluarga, karena Ia adalah lelaki yang pada kodratnya sebagai kepala keluarga.

Piring pecah, sendal melayang, TV remuk atau kursi terbalik sudah menjadi santapan sehari-hari.   Perang mulut tentang siapa yang lebih bersalah, siapa yang lebih berhak marah dan memutuskan sesuatu.  Sepertinya sangat menegangkan tapi ini juga sangat menggelikan.  Menggelikan karena setelah perang yang sedemikian hebat, mereka bisa kembali mesra seolah tak terjadi apa-apa saat mereka keluar bersama-sama dari kamar tidur.  Kamar yang terkunci rapat, namun tak cukup rapat untuk menyembunyikan suara-suara desahan dan cekakak-cekikik mesum dari dalamnya.

Bosan. Tidak ada makanan.  Tidak ada yang menarik perhatianku. Kutarik tubuh dan lengan ke belakang.  Meregangkan otot sekaligus menguap.  Telingaku menangkap suara dari dalam rumah.  Suara telapak tangan dan lutut kecil di lantai.
Dengan sedikit dorongan, pintu yang dengan ceroboh tidak dikunci oleh Sunar itu terbuka sehingga aku bisa keluar masuk ke dalam rumah.  Maya sudah berada di depan kamar Sinta yang menghadap langsung ke ruang TV.    Matanya yang cekung namun bening menatapku, satu-satunya makhluk hidup yang terjaga disitu.

Makhluk yang selalu menemaninya bermain, saat orang–orang yang katanya menyayanginya lebih sering memilih tidur atau menonton TV atau bermain Nitendo.  Makhluk yang tidak akan menjewernya, jika Ia enggan makan karena ada sariawan di lidahnya.  Tidak seperti orang- orang yang mengaku menyayanginya, yang membentak lalu mencubitnya jika Ia rewel karena tak bisa menggaruk gatal di punggung dengan lengan kecil yang tak dapat menggapai pusat gatal.
Makhluk yang tidak akan memukul atau menendangnya hingga meninggalkan lebam-lebam di tubuhnya saat ia merengek karena lapar atau haus.  Makhluk yang tidak akan membekap mulutnya saat ia menangis karena mengantuk atau sekedar meminta perhatian.

Tidak sampai berdarah-darah memang.  Tidak sampai meninggalkan bekas yang kentara di bagian tubuh yang dengan mudah terlihat oleh orang lain.  Mereka terlalu pintar untuk melakukan tindakan ceroboh yang nantinya akan menimbulkan citra negatif pada keluarga mereka.  Makhluk yang tidak akan menjadikan Maya sebagai karung pasir hidup untuk melampiaskan emosi.
Makhluk yang mau mendengarkan dan mengerti setiap ucapannya.  Makhluk yang menyayanginya dengan tulus.


Aku makhluk yang tidak akan mengata-ngatai “Dasar anak’e Siti!!”, ketika  Ia mengompol di kasur atau sofa. Siti, ibu kandung Maya yang namanya disebut dengan nada jijik, seperti jijik pada sampah atau kotoran.  Siti yang dihamili oleh lelaki yang disebuh Ayah dalam rumah ini.  Siti yang menolak menggugurkan kandungannya, seperti yang diminta oleh lelaki itu. Bukan karena Siti menginginkan anak ini.  Bukan pula karena Siti mencintainya, tapi karena Siti ingin menjadikannya alat untuk balas dendam.  Siti bertahan hingga Maya lahir, lalu menjadikannya bom atom yang dengan penuh sukacita ia jatuhkan tepat di tengah keluarga si lelaki yang tak mau menikahinya.

Dan disinilah kini Maya berada, sejak sembilan bulan yang lalu.  Beberapa saat ditegakkannya tubuhnya.  Sepasang telapak mungilnya menjauhi lantai. Ekspresi wajahnya seperti orang dewasa yang sedang memeriksa keadaan sekeliling.  Beberapa waktu kemudian telapak tangannya kembali menyentuh lantai dan menjadi teman lutut untuk menyangga tubuhnya yang kecil.
Maya merangkak mendekatiku.  Ku rendahkan tubuhku agar sejajar dengan pandangannya.  Ia duduk lalu mengelus rambut dibelakang telingaku.


“Bobi, aku pergi dulu  ya”
“Kemana?” tanyaku
“Ke tempat Tuhan”
“Mengapa?”
“Bukan disini tempatku”
“Bukankah mereka menyayangimu?” Ya, menyayangi dengan cara mereka sendiri, batinku muram.
“Iya.  Makanya aku harus pergi.“


Senyuman membentuk lesung pipit di pipi Maya.  Ia terus merangkak melalui pintu yang baru saja terbuka olehku.  Kucoba menahan Maya dengan menarik kaos dalamnya.  Satu-satunya lembar pakaian yang ia kenakan bersama celana pendek kecil berwarna pink.  Maya lalu berhenti merangkak.


“Jangan pergi” aku memohon dengan suara tertahan, hingga yang keluar seperti lengkingan kecil.
“Aku sudah dijemput, Bobi”
“Kau mau kemana, Maya?”
“Rumah Tuhan.” Maya mengulang jawaban yang tadi sudah Ia ucapkan.
“Di mana itu?”
“Di depan rumah.”
“Aaauuuu…” Aku melenguh sedih.
“Kata malaikat, aku akan bahagia di sana.  Bukan disini.”



Lalu aku lepaskan tarikan pada kaos dalamnya.
Maya merangkak terus menuju pintu keluar.  Sampai di depan pintu, Maya berbelok ke kiri, ke arah kolam ikan.  Aku berteriak melengking dan keras berharap Sunar atau Sinta terbangun.  Namun Sunar  bergeming pada nyenyak tidurnya.  Dan Sinta juga tak keluar dari kamarnya.  Entah yang mana sebabnya, karena suara TV yang terlalu keras, atau dengkuran Sunar yang tak dapat kukalahkan suaranya, atau teriakanku yang terlalu lirih.

Percuma, mereka tidak akan bangun.  Lebih baik aku keluar, jangan sampai Maya masuk ke dalam kolam ikan itu.
Maya sudah berada di dekat kolam.  Tangannya menggapai bibir kolam setinggi 40 sentimeter.  Ia berhasil dan Ia berdiri dengan berpegangan pada bibir kolam yang baru disemen seminggu yang lalu.

Kaki kanannya tetap bertumpu di tanah dan kaki kirinya diangkat untuk menaiki bibir kolam.  Dengan usaha keras, kaki kirinya berhasil menaiki bibir kolam dan otomatis menarik kaki kanannya keatas.  Dengan posisi seperti menaiki kuda, kembali Maya melihatku lalu tersenyum.
“Auuuu....”  keluhku pedih.
“Byuurr!”  Tubuh montok Maya masuk ke dalam kolam ikan yang keruh itu. Pertama kakinya, lalu tubuh dan kepala mungilnya.  Terakhir rambut ikalnya masih terlihat mengambang.
“Pyaaak!” salah satu tangan Maya menggapai ke udara, lalu hening.  Tubuh Maya perlahan menghilang, tenggelam pada kolam sedalam satu meter.
“Auuuuuwww…. Aaauuuuuuuuuuuwwww….” Maya akan kehilangan nafas.  Air akan masuk melalu mulut dan hidungnya.  Air akan memenuhi paru-parunya.  Maya akan kehilangan nafas. 
“Auuuuuwww…. Aaauuuuuuuuuuuwwww….” Tiba–tiba  permukaan kolam terang benderang oleh sinar yang terpusat pada satu titik di langit.  Sesuatu bergerak dari dalam kolam hingga permukaannya bergerak gerak membentuk riak-riak kecil.  Kulihat tubuh Maya keluar dari dalam kolam.  Kini Maya mengenakan rok terusan berwarna putih dengan renda-renda di bagian dada dan ujung roknya.  Ia juga mengenakan bando dengan warna yang sama dengan warna roknya.  Pipinya bersemu merah dan Ia tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangan.  Tubuhnya melayang semakin keatas, lalu menghilang.  Bersamaan dengan itu, cahaya yang tadi bersinar juga mendadak hilang.  Permukaan kolam sangat tenang.


Aku berlari mendekati bibir kolam, berharap masih ada harapan untuk menggapai Maya.    Ternyata tidak.  Maya sudah terlalu jauh.  Hanya baunya yang tertinggal bersama mainan dari plastik bulat berwarna merah hijau kuning dengan lonceng kecil didalamnya yang mengambang di atas permukaan kolam.

Maya, kau bahkan tidak ingin membuat mereka merasa bersalah atas kepergianmu.  Mainan ini akan membuat mereka berfikir bahwa kau terjatuh saat akan mengambil mainan ini.  Bukan karena memang kau ingin pergi.   Pergi dari mereka yang palsu.  Mereka yang dangkal.
Andai aku mampu, aku pasti akan menahanmu.  Memberimu cinta lebih dari bagaimana manusia mencintai.  Karena manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya.  Manusia sudah tidak manusiawi.

“Pffffuiiiiittt…”  Itu suara siulan Sunar.
“Bobi.. ck.. ckk… ckkk… Anjing pintar.. Sini.. sini….”  Bahkan pada anjing pun Sunar memanggil dengan pujian.  Kenapa tidak pada Maya?

Manusia telah kehilangan kemanusiawiannya.


~J (9/12/09)

No comments:

Post a Comment

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...