Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, May 16, 2025

Dompet Untuk Ibu

 Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berdetak kencang sekencang larinya. Di semak-semak pembatas jalan dan got akhirnya Ia menelusupkan tubuhnya untuk bersembunyi. Masih memegang dada dan sesuatu  dalam genggamannya
================================================================

Monday, January 6, 2025

Hingga Akhir

 ”Kumohon Valdo, hentikan semua ini” Kupandangi wajahnya yang putih pucat.  Angin memainkan rambut berombaknya yang gondrong. Valdo hanya tersenyum sinis, matanya memandang jauh ke arah pantai di hadapan kami.

”Ketika plot sudah tercipta, maka tak ada yang akan dapat mencegah cerita itu mengalir.”  Kalimat yang Ia ucapkan dengan ketenangan luar biasa.  ”Hingga akhir”, lanjutnya mantap sambil memalingkan wajah, pandangannya menatap ke dalam mataku.

"Tapi bagaimana jika Plot itu tidak berjalan sempurna.. hingga akhir?" aku mengucapnya dalam hati.


Sunday, December 10, 2017

VANO

Menjadi seorang ayah dan seorang diri membesarkan anak laki-laki berumur empat tahun bukanlah sesuatu yang bagus untuk kau pilih untuk kau jalani.  Tapi ini bukan lagi sebuah pilihan.  Ini adalah efek dari sebuah keegoisan yang dulu pernah aku agungkan  tanpa pikir panjang.  Sengaja memisahkan Vano  dari ibunya ternyata bukan keputusan yang bijak, dan kini aku harus menanggung semua akibatnya. Bukan, bukan hanya aku. Tetapi kurasa Vano yang lebih banyak menanggung akibat dari keegoisanku itu.

Saturday, June 1, 2013

We live in a different way


Sejak detik pertama melihatmu kembali, dengan sangat sadar aku mengenali apa yang masih kurasakan padamu.  Aku melihat kilatan matamu ketika menatapku, meski hanya sekian detik.  Dan aku tahu pasti apa yang berusaha kau sembuyikan di balik kelopak matamu yang kau tutup lebih lama dari yang sewajarnya orang berkedip, sebelum kau buka kembali matamu dan mengubah ekspresi wajahmu.  Kau merasakan hal yang sama denganku.

Delapan tahun, nyatanya tak mampu menghapus apa yang pernah terjadi pada kita.  Dan pertemuan ini seperti api di bibir gentong berisi penuh bensin yang terbuka tutupnya.  Beranikah aku menjatuhkan api ini ke dalamnya dan terhempas oleh ledakan perasaan yang selama sekian tahun kutahan? Bagaimana denganmu, sayang? Beranikah kau?

Saturday, February 16, 2013

Cahaya Maya

Seperti biasa, jam tiga sore para penghuni rumah melakukan rutinitas sehari-hari.
Sinta baru saja pulang dari sekolah.  Baju putihnya Ia ganti dengan kaos bergambar barong berwarna merah, sedangkan rok abu-abunya tetap Ia pakai.  Setelah makan Sinta bermain main dengan Maya di kamar.  Baru tiga puluh menit tapi tak kudengar lagi suara Sinta atau Maya.  Hanya suara nafas yang berat dan teratur milik Sinta.  Sinta sudah tertidur.

Sunar, sama saja.  Kerjaannya cuma tidur saja.  Rumah yang seharusnya Ia bersihkan dan rapikan tetap berantakan dan kotor.  Baju kotor masih menggunung di depan kamar mandi.  Di kursi panjang depan TV tubunya tengkurap.  Kepalanya menghadap ke arah meja ruang tamu.  Mulutnya merot terbuka terkena tekanan bantal.  Liurnya menetes keluar dari mulut merotnya bersamaan dengan suara dengkuran yang mengalahkan suara TV.

Sunday, February 3, 2013

Batas itu



Batas itu,
Yang susah payah kau bangun atas nama kebenaran.  Kebenaran yang aku anggap omong kosong, Karena hanya membuatmu jadi orang munafik dan tidak jujur pada diri sendiri.  Seperti pengecut yang tidak berani berjuang, bahkan untuk dirinya sendiri.  Kau menangis.   Kau bersedih.  Dan aku hanya memandangmu dalam diam.   Terserah! Aku tak peduli.

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...