”Kumohon Valdo, hentikan semua ini” Kupandangi wajahnya yang putih pucat. Angin memainkan rambut berombaknya yang gondrong. Valdo hanya tersenyum sinis, matanya memandang jauh ke arah pantai di hadapan kami.
”Ketika plot sudah tercipta, maka tak ada yang akan dapat mencegah cerita itu mengalir.” Kalimat yang Ia ucapkan dengan ketenangan luar biasa. ”Hingga akhir”, lanjutnya mantap sambil memalingkan wajah, pandangannya menatap ke dalam mataku.
"Tapi bagaimana jika Plot itu tidak berjalan sempurna.. hingga akhir?" aku mengucapnya dalam hati.
Aku berlari memasuki rumah besar bertembok putih dan langkahku terhenti di ruang makan. Kudengar suara rengekkan pria dewasa yang sedang menangis. Perlahan kulangkahkan kakiku ke arah suara itu, di lantai di samping meja makan kulihat bagian belakan tubuhnya yang terduduk. Punggungnya berguncang seiring isakan tangisnya yang terdengar makin keras. Salah satu kakinya lurus ke arah dapur, kedua tangannya memeluk salah satu kakinya yang ditekuk
Mendengar suara langkahku mendekat, Ia terlihat terlonjak kaget dan langsung mendongak menatapku. Tatapan matanya membelalak nanar, liar dan terlihat panik. Wajahnya basah oleh air mata dan ujung hidungnya terlihat berwarna merah muda. Ingus meleleh dari lubang hidungnya.
"Valdo.." segera aku duduk menyejajarkan pandanganku dengannya, kuraih telapak tangannya yang dingin dan basah oleh keringat. Sontak aku terkaget-kaget saat tiba-tiba Ia memelukku dengan sangat erat hingga aku merasa sesak.
"Ssst.. sst... Valdo.. tenang sayang. Kasih tahu aku, apa yang terjadi?", aku ingin balas memeluk dan mengelus punggungnya, tapi perasaan takut yang tak kumengerti menahan tanganku. Jadi aku hanya mendiamkan Valdo memelukku hingga beberapa saat.
"Aku.. aku... aku enggak bermaksud.." semendadak ketika ia memelukku, Valdo tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mencengkeram kedua lenganku sambil berkata terpotong-potong. Aku tak menjawab hanya menatap matanya.
"Tadi Papa.. Tadi aku .. Aku cuma ingin nakut-nakutin Papa. Kamu tahu kan rencanaku.. ?", tangan kanan Valdo terlepas dan bergerak-gerak mengaduk angin mencoba mengekspresikan kata-katanya. Aku mengagguk, memberinya tanda bahwa aku mengerti dan supaya Ia meneruskan kalimatnya
"Aku cuma ingin Papa berhenti menyiksa Mama, kamu mengerti kan?!" dia bertanya lagi, ingin memastikan bahwa aku memahaminya. Sekali lagi aku mengangguk sambil menahan sakit pada lengan kananku yang tanpa Valdo isadari telah Ia remas begitu kencang.
"Tapi.. tapi.. dia.. Papa malah mengambil pistol dari lacinya.. Lalu.. Lalu.." tergagap-gagap Valdo meneruskan ceritanya sambil sesekali mengusap ingus yang keluar dari hidungnya. Ujung ambut gondrongnya yang basah oleh keringat dan air mata menempel di pipi dan keningnya. Ia tampak pucat dan menyedihkan. Dengan lembut sekali kuangkat tanganku yang terbebas dari cengkeraman Valdo lalu kuusap air mata di pipinya, ingin mencoba membuatnya lebih tenang.
"Lalu aku mencoba mengambil pistol itu dari Papa.. Kami berkelahi, tapi.. tapi.. lalu..."
"DOOR!!!"
Suara tembakan memekakkan telinga terdengar dari ruangan yang kutahu adalah ruang kerja Papa Valdo. Selama beberapa detik kami terpaku tidak bergerak. Terkaget dan syok dengan suara tembakan itu. Dalam beberapa beberapa detik itu aku mencoba memahami dan menangkap beberapa hal. Mengaitkan cerita Valdo yang belum selesai dan suara tembakan barusan. Mencoba mengaitkan, menganalisa dan menebak apa yang sebenarnya terjadi. Namun gagal. Hingga Valdo terbebas dari diamnya lalu berteriak sambil berlari ke arah kamar tersebut
"MAMA!"
Mulutku terbuka menganga melihat pemandangan mengenaskan dihadapanku.
Sesosok tubuh pria tergeletak di lantai tepat dibawah meja kerja besar. Darah mengalir dari perut, tepat di bawah dada dan menggenang di balik punggungnya. Itu adalah tubuh Pak Aryo, Papa Valdo. Di sampingnya, tergeletak tubuh Mama Valdo dengan posisi menyandar di tembok di belakang meja. Darah segar mengalir dari lubang di pelipis kanan wanita paruh baya itu. Sebuah senjata otomatis yang terlihat berat dalam telapak tangan yang telunjuknya masih berada dalam pemicu benda tersebut.
Valdo berteriak histeris lalu meraih dan mengguncang -guncang tubuh Mamanya. Sebuah kertas terlihat dalam genggaman tangan kiri Mama Valdo. Sementara Valdo masih histeris, aku mengambil dan membacanya
Papa mencintaimu, sama seperti Mama mencitai kamu.
Jaga diri baik -baik. -Mama- "
Kutarik-tarik kaos Valdo karena tak mampu bersuara, dan kuulurkan kertas tersebut.
"Tidaaaaaaaaaaaaaak....!! Bukan Mama!! Bukan Mama!! Valdo yang melakukannya, Valdo yang membunuh Papa! Mama tidak boleh mati, Maaaaa!"
"MAMA!! MAMAAAAAAAAAA!!" Valdo terus berteriak sambil mengguncang tubuh Mamanya. Aku mencoba menyadarkannya dari histeria, tapi berkali-kali ditepiskannya tanganku. Lalu Valdo berhenti mengguncang tubuh Mamanya. Matanya memandang senjata api di dalam genggaman ibunya. Rencanaku untuk menelpon rumah sakit mendadak menguap saat melihat cara Valdo memandang senjata itu.
"No! Valdo! Jangan sentuh senjata itu!" Aku mencoba terdengar tegas, namun suaraku bergetar. Valdo memandangku lalu kembali melihat ke arah senjata itu. Tangannya bergerak untuk mengambil benda itu dari genggaman Mamanya.
Terdengar suara sirine mendekat ke arah rumah ini. Mungkinkah itu mobil polisi? atau ambulan? apakah mereka menuju ke sini? siapa yang melelpon mereka? Panik. Aku merasa seperti mimpi. seperti sedang menonton film misteri dan aku berada di dalamnya. Di tengah kepanikan karena suara sirine itu, Valdo telah mengambil senjata itu.
"Valdo.. Please dengerin aku, sayang. Letakkan senjata itu. Oke" Aku takut jika sidik jari Valdo ada disitu, polisi akan menyeretnya ke penjara. Jika memang Valdo yang tak sengaja membunuh Papanya, maka surat yang Mama Valdo tulis, pasti untuk menyelamatkan Valdo dari tuntutan pengadilan. Aku yakin, pasti Mamanya telah membersihkan senjata itu dari sidik jari Valdo sebelum bunuh diri. Jadi Valdo tidak boleh menyentuhnya..
Oh, tapi Valdo sudah terlanjut menyentuhnya. It's oke.. Surat ini tetap bisa menyelamatkannya dari tuntutan. Tapi ini tetap tidak aman.. bagaimana jika Valdo merasa sangat bersalah hingga Ia ingin bunuh diri juga seperti mamanya???
"Valdo... Sayang.. berikan padaku.. senjata itu berbahaya sayang.. Oke.. Please..." Aku berusaha membujuknya, tapi Valdo seolah tak mendengarku. Matanya memandangku tapi tatapannya kosong. Senjata itu dalam genggamannya dan ia putar -putar menggunakan jari telunjukknya. Ya Tuhan.. selamatkan kami..
Senjata otomatis berhenti berputar, sama halnya suara sirine yang tak lagi terdengar digantikan suara berisik beberapa orang yang masuk ke rumah ini.
Senjata otomatis berhenti berputar. Moncongnya menempel di pelipis kanan kekasihku.
Suara berisik berhenti terdenggar. Polisi-polisi itu terdiam melihat kami.
Melihat dua mayat bersimbah darah. Melihat Valdo dengan senjata menempel di kepalanya.
==
Salatiga, 6 Jan 2010
~J
No comments:
Post a Comment