Showing posts with label just my another cup of coffee. Show all posts
Showing posts with label just my another cup of coffee. Show all posts

Wednesday, November 16, 2022

Kunci Kendali

Karena kesenangan dan kesedihan datang silih berganti
Mereka yang datang dari luar
Menempel pada lingkaran hidup. 
Berputar, bergulir dan menggelinding

Perlu menjadi kuat agar tak goyah
Dengan begitu roda tak akan patah
dan lingkaran itu tidak akan terjatuh

Ketika kesedihan itu datang
Kendalikan diri untuk menjadi tenang
Meskipun ada  sedikit gelombang
Lingkaran itu akan bertahan dan tetap berputar

Dan ketika kebahagiaan itu hadir bersama keberhasilan atau pujian
Kendali yang sama akan dibutuhkan untuk tetap tenang
Dengan begitu roda akan tetap berputar pada arah yang benar
Tidak tersesat pada gempita yang sering kali membuat terlena

Dengan cara masuk  ke dalam. Menguatkan inti.
Kembali kepada pusat. Memegang erat kunci kendali.





Saturday, September 10, 2022

40

Kusadari.. 

Mengalir dan Berjalan ke dalam adalah dua hal yang berbeda


Tubuh mengalir, ke arah arus itu menuju

Namun hati selalu ingin berjalan ke dalam.

Terjadi sebuah kontradiksi, ketika arus itu menyeretmu keluar

Tercipta gesekan yang menggores ketenangan


Sebuah PR bagi kedewasaan diri.

Untuk berdamai dengan kontradiksi

Sehingga ketenangan tak lagi tergores

Dan jiwa yang gelisah itu akan terdamaikan



Sunday, June 6, 2021

lupa

bukankah kau akan mencari cahaya ketika gelap datang?
seperti kamu mencari payung ketika hujan
atau air yang kamu idamkan kala haus
selalu ada yang kau cari ketika sesuatu hilang
seperti matematika, dibutuhkan angka lebih untuk menyeimbangkan yang kurang.

aku ingin berfikir seperti itu. sesederhana itu.
mengabaikan bahwa sebetulnya aku tak peduli meski tak ada siang
aku tak keberatan meski hujan terus datang.
dan aku tahu matetika bukan hanya tanda tambah dan kurang.

sesuatu  yang bisa aku simpan dan putar setiap saat
gambaran indah bunga yang bermekaran di bawah sinar matahari pagi
namun pandanganku turun ke akarnya dan masuk terus jauh ke dalam 
gambaran gelap, pengap, sesak.. sesuatu yang  membusuk disana

bukankah aku hanya perlu menaikkan pandangan untuk melihat cahaya lagi?
ya, tapi tak ada rasa ingin. aku lupa caranya.


aku ingin mengingat cara ingin







Sunday, May 3, 2020

Ramadhan Di Tengah Pandemi ( Ketika harus di rumah saja)

 Jum’at, 24 April 2020, lewat tengah malam.
Hujan deras mengguyur malam. Aku terbangun dan melihat jam di telepon genggam.  Masih pukul 2 lewat.  Terlalu dini untuk membangunkan anak-anak untuk bersahur, aku memutuskan untuk bangun dan sholat tahajud.  Malam selalu memberiku sesuatu yang tidak bisa kudapatkan di siang hari, kesunyian.  Hujan selalu memberiku sesuatu yang tidak selalu bisa kudapatkan saat cerah, suasanya nyaman. Malam yang hujan, menggiringku untuk melamun.  Memikirkan tentang hari pertama bulan Ramadhan tahun ini.

Saturday, September 1, 2018

Mengijinkan diriku menangis


Kupikir aku telah lupa
ternyata lupa hanyalah sementara
Hingga ingatan itu datang kembali
dan aku tak bisa lagi pura-pura lupa

Kupikir aku telah memaafkan
ternyata itu hanya ketika aku lupa
Hingga ingatan itu datang kembali
aku berharap kau merasakan apa yang kurasa

Kupikir aku baik-baik saja
rupanya itu karena aku melarang hatiku untuk merasa
Hingga aku tidak lagi bisa berpura-pura 
....

Malam ini aku akan mengingatmu
dan mengijinkan diriku menangis

~ J

Thursday, December 14, 2017

Rainy Story_2



Do I need write a caption for this picture? Nope!

I just want to keep this.. 
So when they grow up later..they'll see this.

Remember when they were so busy preparing what their mom likes
Replaced their mom's tired face with a bright smile

Get to know more... how precious they are for me.
And how grateful I am to be their mom.

~j

Monday, November 27, 2017

Rainy Story_1

Di perjalanan mengantar Nino ke sekolah pagi ini.


Me: "Kakak melamun?"
Nino : "Hm.."
Me:  "Ngelamunin apa kak?"
Nino : "Aku kepikiran, Mah.  Kalau aku di rumah, santai-santai'an, mainan laptop, baca komik"
Me: "Oh, sounds cozy.  I want to do that also.  Santai-santai'an di rumah, nonton drama, minum kopi, main gitar"
Nino: "Nah, iya kan?!"
Me:  "But my boss may be will get angry with me"
Nino: "Mama kerjanya setengah-setengah aja.  Senin - Rabu kerja di kantor.  Kamis - Jum'at tidak usah kerja"
Me: "Hm.. artinya mama bisa kehilangan 2 hari gaji mama hanya untuk santai-santaian.  Let's say gaji mama sehari 100 ribu, maka mama membuang 100 ribu x 2 hanya untuk santai-santaian"
Nino: (diam sebentar) "Mama, kau kerja aja deh. Santai-santaian nya hari Sabtu dan Minggu saja"
Me: (ketawa) "Nah, kakak mau santai-santaian juga di rumah atau mau sekolah?"
Nino: "Aku harus belajar supaya bisa kerja dan dapat uang kaya mama ya?"
Me: "He'em"
Nino: "Aku mau sekolah deh. Santai-santaian nya hari Sabtu dan Minggu saja"
Me: : )




Saturday, May 6, 2017

Dari Seni Turun ke Hati

Katanya darah seni itu turunan.  Menggambar, musik, menulis, membaca. Jika aku pikir-pikir, aku mengenal itu semua dari almarhum Bapak. (Bukan bermaksud bilang kalau aku ini seniman, mungkin lebih tepat disebut penyuka dan penikmat seni) 

Dulu waktu aku masih SD, Bapak lah yang mengenalkanku pada gitar.  Aku masih ingat, sebuah gitar akustik sederhana, dengan stiker bergambar singa pada bodinya.  Sebuah gitar yang sering dimainkan Bapak ketika siang hari sepulang aku sekolah atau sore sebelum jam makan malam.  Lagu Karo yang waktu itu aku tidak mengerti artinya, lagu-lagu Ebiet G AD, atau lagu-lagu milik The Scorpion.   Kadang kami, anak-anak Bapak, meminta Bapak mengiringi jika kami ingin menyakikan lagu anak-anak, seperti “Naik-naik ke puncak gunung”, atau “Di sini senang, di sana senang”.  Hingga suatu saat aku penasaran dengan bagaimana cara memainkannya dan bertanya pada beliau.  Kunci pertama yang Bapak ajarkan adalah kunci A.  Dan setelah itu aku tidak penasaran lagi, karena menurutku rasanya sulit.  Setelah itu aku tidak bertanya maupun mencoba lagi.  Ujung jari-jariku  terasa sakit, dan bunyi yang dihasilkan ketika aku menggenjreng nya terdengar seperti “plekethek.. plekethek”.  Aku baru belajar lagi ketika sudah duduk di bangku SMP, ketika jemariku sudah lebih besar, begitu juga rasa keingintahuanku.


Dulu waktu aku masih SD kami memiliki sebuah keyboard mini yang dilengkapi tombol instrumen dan juga kunci dasar serta pilihan jenis bunyi.  Aku dan adik lelakiku sangat menyukai alat musik ini.  Kadang Bapak memintaku untuk menyanyi dengan diiringi keyboard mini ini, lalu merekamnya dengan Tape recorder.  Tentu saja, aku harus berlatih dahulu sampe dirasa cukup bagus, sebelum Bapak mulai menekan tombol “RECORD”.  Tahu sendiri lah, jaman segitu, belum ada fasilitas “delete” jika hasil rekamannya tidak memuaskan.  Entah sekarang dimana hasil rekamannya, aku rasa itu bahkan sudah hilang ketika aku menginjak bangku SMP.

Sama halnya musik, aku mengenal menggambar juga dari Bapak.  Bapak mengajariku menggambar gajah dan kuda beserta step by step-nya. Aku bukanlah pelukis yang handal.  Jauh dari situ malah. Aku tidak tahu banyak tentang lukisan ataupun sejarahnya.  Tapi aku suka memandangi lukisan yang aku lihat (kapanpun, di manapun), lalu asyik dengan pertanyaan-pertanyaan dikepala yang muncul ketika aku melihat lukisan-lukisan tersebut.
Lukisan Bolang (Kakek) oleh Bapak

Pun ketika aku sedang menggambar, aku sangat menikmati prosesnya.  Entah itu menggambar menggunakan pinsil, ballpoint, spidol, cat warna, komputer (apapun/ bagaimanapun hasilnya)
Me - with Klara dan sisa cat air Nina Nino

Lalu tentang menulis dan membaca.  Saya tau bahwa Bapak suka membaca dari koleksi novel-novel beliau yang tersimpan di loteng.  Ketika Bapak ketika Bapak pulang setelah sekitar sebulan kerja di luar kota, selain oleh-oleh makanan, dulu beliau sering membawakan kami Novel.  Bukan novel baru, tapi tetap saja membuat kami, anak-anaknya senang.  Satu diantara beberapa novel yang sering dibawa Bapak adalah karya Agatha Christie. 

Aku tahu bahwa Bapak juga suka menulis, ketika menemukan sebuah buku berisi tulisan tangan Bapak.  Pada halaman pertamanya ada tulisan “Siluman Harimau”.  Kakak perempuanku juga adalah seorang penulis.  Dia menulis beberapa novel dan cerpen ketika dia masih SMA dan semester awal kuliah,  meskipun tidak pernah diterbitkan.  Dan aku adalah penggemar nomer satunya.  Saat ini ia lebih fokus pada passion dia yang lain, yaitu sebagai instructor  senam.

Aku sendiri menyukai proses menulis, meskipun lebih sering asal-asalan dan tidak konsisten.  Tapi aku menyukainya.  Ketika menuangkan apa yang ada dipikiranku, imajinasiku, atau bahkan mimpi-mimpi anehku dalam bentuk tulisan.

Aku menemukan "my very own room", ketika bemain gitar, menulis dan mencoret-coret sesuatu diatas kertas.  


Dan saat ini, aku mendengarkan lagu Wind of Chage-nya Scorpion, minum kopi hitam kesukaan Bapak (Kaca mata), aku menulis sambil membayangkan Bapak yang sedang memainkan gitar dengan rokok terjepit diantara jari-jarinya.  Tersenyum memandangi kami.

Yeah, aku memang lagi merindukan beliau.



*Doa untuk tempat terbaik di sana untuk Bapak

~J 







Monday, April 11, 2016

Teruslah berjalan

Relakan yang harus pergi
Terima yang harus dihadapi
lakukan yang harus dilakukan
berhenti menyalahkan diri sendiri
Semua terjadi untuk sebuah alasan

Teruslah berjalan ke depan
jangan lepaskan pegangan
nanti akan ada jalan keluar
Meski sepi dan sunyi.. Teruslah berjalan
Semua terjadi untuk sebuah alasan

Dan jangan berhenti
Teruslah berjalan
Dan jangan berhenti
Teruslah berjalan

Meski sepi dan sunyi
Nanti akan ada jalan keluar

   ~J



Friday, November 8, 2013

Jika terlalu lama meninggalkannya..

Pernahkah kamu merasa hilang?  
Menyadari dunia yang kau pijak bukanlah lagi tempat yang sama
Dengan pahit mengakui bahwa sekelilingmu adalah pemandangan yang berbeda
Lalu berbicara pada dirimu sendiri, bahwa semua terasa salah.  Semua terasa tidak semestinya.

Lalu hatimu berbicara  padamu, memberimu jawaban..
"Bumi yang kau pijak adalah sama.  Begitu pula langit biru itu.Dunia yang mengelilinginmu adalah sama.  Tak ada yang berubah dari ituTak ada yang salah dengan semua itu.  Karena bukan mereka yang berubah.  Melainkan dirimu"

Kamu akan merasa bingung. Tidak mengerti dengan kata hatimu sendiri, lalu hatimu melanjutkan berkata..

"Kau terlalu lama berpaling dariku.  Mungkinkah ada yang kau takutkan hingga kau enggan menemuiku?  Takut merasa sakit? takut menjadi orang yang khawatir? takut mengakui rasa bersalah?"

Kamu akan terhenyak dan mulai mencerna kata hatimu.  Mulai mengingat-ingat tentang banyak cerita yang mengisi hidupmu.  Ketika kau mulai berfikir, kau menjauhi hatimu agar kau lupa caranya merasa. Karena hanya dengan begitu kau merasa aman dari rasa sakit. Tapi kini kau merasa hilang.  Dan sepi

Hatimu akan tersenyum hangat.  Ia senang kamu kembali mengingatnya.

"Kembalilah padaku.  Bicaralah denganku.  Pandang dan hadapi dunia bersama-sama aku.  Meski tidak manis selalu, tapi setidaknya kau tidak akan merasa menjadi orang palsu"

Kamu mungkin akan terdiam, tidak melakukan apapun.

Mungkin kamu akan kembali pada hatimu.

Mungkin kamu akan berjalan semakin menjauhinya.

.. Mungkin


Setidaknya peganglah satu hal ini: 
Bahwa jika kamu telalu lama meninggalkan hatimu, mungkin ia akan menjadi sama bingung dan sepinya seperti kamu.



~J




Sunday, June 23, 2013

this is just..

This is just like a line in some long novel.  
Just some simple part in life
This is not a happy nor love story. 
Neither  a dramatic and full of tears story.

This is just a story about things that touching my heart, 
and somehow covering it warmth.
You may forget it so easy some day.  
But for me, who wrote this story, 
it may will be stay forever in my soul.



Deep in my heart, I wish someday .. I could have mean to you, as you mean to me.


-J



Saturday, June 8, 2013

Mendengar sunyi


kubaca dan kutelaah syairmu dalam senyap
lalu kudengar nyanyian sunyimu dalam gelap

hanya dengan begitu aku merasa kau memelukku
cukup dengan begitu aku merasa kau ada untukku

tak ada lagi takut dan khawatirku
kutau yang kubutuh ketika hariku pilu









P.S
Its my road, and mine alone.
others may walk it with me,
but no one can walk it for me












Tuesday, March 19, 2013

Pantulan Rasa




Angin berhembus pelan bagai musik yang menggerakkan daun-daun pepohonan di taman sore itu. Udara masih terasa lembab meski hujan sudah berhenti beberapa waktu yang lalu. Aroma tanah basah menyeruak mengusik penciumanku. Aroma yang selalu berhasil membangunkan rasa yang telah tertidur begitu lelap, begitu lama. Aroma kerinduan yang menggelitik ingatan meski aku tidak memintanya. Pada sebuah cerita di masa lalu. Pada kehangatan secangkir teh yang dinikmati bersama riuh suara hujan dan suara canda tawa yang sayup terdengar dari sebuah kamar.

Kupejamkan mata, lalu kuhirup dalam-dalam aroma kerinduan hingga memenuhi paru-paruku. Rasa nyeri meremas ulu hati ketika kenangan-kenangan itu berputar-putar dalam kepala. Seperti potongan potongan gambar yang muncul berganti gantian. Aku tak lagi melawan dengan menyangkal rasa yang sedang aku rasakan ini. Kubiarkan ia berpendar menyebar mengalir melalui setiap pembuluh darah ke seluruh tubuhku. Hatiku menghangat. Tubuhku terasa ringan.


~J



Friday, March 1, 2013

Tentang sebuah kepercayaan

Seseorang berbicara tentang "kepercayaan", yang akhirnya memunculkan makin banyak pertanyaan dalam pikiranku.  Aku mencoba menelaah, mencerna, mencermati dan mengurainya.  Tapi ternyata malah menjadi seperti untaian benang kacau di kepalaku. Ha ha.. 

Wednesday, January 30, 2013

Now tell me… What should I do?



Ketika lelah menyedot 99 % tenagaku
Kemudian galau menempel erat  padaku
Menyuram hariku.  Mengusam warna-warnaku.
Ia mengacau sesuatu yang kusebut mood.

Sunday, January 6, 2013

Pilihan yang salah


Tentang konsekuensi atas sebuah pilihan dimana sesal adalah sesuatu yang akan menampar egomu sendiri.  Hingga rasa itu akan mengendap, bersembunyi di sudut hatimu yang dalam, gelap dan paling tak terlihat.  Karena sesal akan membuatmu merasa malu! Malu atas pilihan egomu sendiri.

Sunday, December 23, 2012

Cinta atau yang lain ?




Cinta..

Kau tidak pernah bisa menyalahkan mereka.  Karena cinta tidak pernah salah.  Rasa tidak pernah salah. 

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...