Batas itu,
Yang susah payah kau bangun atas
nama kebenaran. Kebenaran yang aku anggap
omong kosong, Karena hanya membuatmu jadi orang munafik dan tidak jujur pada
diri sendiri. Seperti pengecut yang
tidak berani berjuang, bahkan untuk dirinya sendiri. Kau menangis. Kau bersedih. Dan aku hanya memandangmu dalam diam. Terserah! Aku tak peduli.
Batas itu,
Yang telah kokoh berdiri di
hadapanku, telah mematikan aksesku ke kamu.
Tak lagi bisa melihatmu memandangiku dengan jenaka, menggoda kadang meredup tiba-tiba. Aku tak mampu lagi mendengarmu tertawa dengan
jenaka, menggoda, kadang terdiam tiba-tiba.
Tidak ada lagi tatapan galak dan
ucapan-ucapan bernada tegas yang
sok menasehatiku.
Aku mulai marah pada batas
itu. Menyebalkan.
Batas itu,
Seperti layar yang memutar film
lama yang aku sebut sebagai kenangan. Kulihat diriku sendiri berlari kecil dari
sebuah taman ketika hujan mendadak turun, dan kamu di belakangku dengan langkah
lebarmu begitu mudah menyusul dan memayungiku.
Kau selalu mengacak rambutku tiap kali bertemu denganku. Dan aku selaku bersungut-sungut marah setiap
kali kau melakukannya.
Pada setting waktu yang berbeda,
kulihat diriku lagi. Di taman yang sama,
dengan cuaca yang berbeda. Pada sebuah
bangku taman kau duduk bersamaku. Kau
ingin mengucapkan sesuatu kala itu. Kau
terlihat ragu, namun satu helaan nafas panjang seolah menyemangatimu untuk
membuang keraguan tadi. Kau menyentuh
ringan tanganku, dan aku mulai bertanya-tanya.
Kau mulai menggenggam tanganku dan aku mulai panik. Pandanganmu terlalu serius.. terlalu dalam..
terlalu tidak jenaka. Terlalu bukan dirimu
dan aku sontak berlari meninggalkanmu.
Kata temanku yang juga
sahabatmu, aku terlalu kejam karena terus menjauhimu padahal aku tau bahwa kau
sangat menyayangiku. Tapi pandanganmu
aneh.. aku tidak tau harus berbuat apa.
Aku sangat sayang kamu. Aku hanya
tidak tau harus bagaimana.
Hingga akhirnya terlahir batas itu.
Batas itu,
Sesuatu yang mengenalkanku pada
sesuatu yang bernama “Rindu”. Sesuatu
yang terasa begitu pahit namun juga sekaligus amat manis.
Batas itu,
Telah meremukkan batas lain yang ternyata
selama ini telah melingkupi dinding hatiku.
Hingga akhirnya aku mulai melihat isi didalamnya.
Bahwa ini lebih lebih dari sekedar rasa sayang.
Batas itu,
Dengan keberanian yang
kukumpulkan selama masa waktu yang menyiksa ini, aku membongkarnya. Aku tak peduli meski kau telah membangunnya
dengan kerja keras, aku tetap menerobos menembusnya. Merusaknya. Kupikir aku telah berhasil menembus batas itu ketika aku mulai melihatmu lagi. Hatiku dipenuhi awan ketika mendengarmu lagi. Kupikir akan mudah mulai bicara lagi padamu,
karena aku sudah melatihnya berulang-ulang selama ini. Ternyata tidak.
Sosokmu adalah sama, tapi tidak
pribadimu. Matamu adalah sama, tapi tidak tatapanmu. Bibirmu adalah sama, tapi tidak
senyumanmu. Langkahku terhenti tepat di
hadapanmu, tapi kau seolah bermil mil jauhnya dariku.
Ada lubang besar menganga di
jiwaku.
Aku patah hati. Aku marah pada diriku sendiri. Aku ingin mengatakan betapa aku sayang. Aku cinta.
Aku ingin kamu kembali. Tapi aku
tak bisa.
Aku patah hati.. Aku mundur. Kembali ke belakang batasmu yang telah kuhancurkan. Lalu mulai menyusun ‘batas’ku sendiri.
Bukan saja agar kau tak bisa masuk kesini., tapi
agar aku tak nekat menerobos ke duniamu lagi.
~J

No comments:
Post a Comment