Sunday, February 3, 2013

Batas itu



Batas itu,
Yang susah payah kau bangun atas nama kebenaran.  Kebenaran yang aku anggap omong kosong, Karena hanya membuatmu jadi orang munafik dan tidak jujur pada diri sendiri.  Seperti pengecut yang tidak berani berjuang, bahkan untuk dirinya sendiri.  Kau menangis.   Kau bersedih.  Dan aku hanya memandangmu dalam diam.   Terserah! Aku tak peduli.


Batas itu,
Yang telah kokoh berdiri di hadapanku, telah mematikan aksesku ke kamu.  Tak lagi bisa melihatmu memandangiku dengan jenaka, menggoda  kadang meredup tiba-tiba.  Aku tak mampu lagi mendengarmu tertawa dengan jenaka, menggoda, kadang terdiam tiba-tiba.  Tidak ada lagi tatapan galak dan  ucapan-ucapan bernada tegas yang  sok menasehatiku. 
Aku mulai marah pada batas itu.  Menyebalkan.

Batas itu,
Seperti layar yang memutar film lama yang aku sebut  sebagai kenangan.  Kulihat diriku sendiri berlari kecil dari sebuah taman ketika hujan mendadak turun, dan kamu di belakangku dengan langkah lebarmu begitu mudah menyusul dan memayungiku.  Kau selalu mengacak rambutku tiap kali bertemu denganku.  Dan aku selaku bersungut-sungut marah setiap kali kau melakukannya. 

Pada setting waktu  yang berbeda, kulihat diriku lagi.  Di taman yang sama, dengan cuaca yang berbeda.  Pada sebuah bangku taman kau duduk bersamaku.  Kau ingin mengucapkan sesuatu kala itu.  Kau terlihat ragu, namun satu helaan nafas panjang seolah menyemangatimu untuk membuang keraguan tadi.  Kau menyentuh ringan tanganku, dan aku mulai bertanya-tanya.  Kau mulai menggenggam tanganku dan aku mulai panik.  Pandanganmu terlalu serius.. terlalu dalam.. terlalu tidak jenaka.  Terlalu bukan dirimu dan aku  sontak  berlari meninggalkanmu.

Kata temanku yang juga sahabatmu, aku terlalu kejam karena terus menjauhimu padahal aku tau bahwa kau sangat menyayangiku.  Tapi pandanganmu aneh.. aku tidak tau harus berbuat apa.  Aku sangat sayang kamu.  Aku hanya tidak tau harus bagaimana. 

Hingga  akhirnya terlahir batas itu.

Batas itu,
Sesuatu yang mengenalkanku pada sesuatu yang bernama “Rindu”.  Sesuatu yang terasa begitu pahit namun juga sekaligus amat manis. 

Batas itu,
Telah meremukkan batas lain yang ternyata selama ini telah melingkupi dinding hatiku.  Hingga akhirnya aku mulai melihat isi didalamnya.  Bahwa ini lebih lebih dari sekedar rasa sayang.

Batas itu,
Dengan keberanian yang kukumpulkan selama masa waktu yang menyiksa ini, aku membongkarnya.  Aku tak peduli meski kau telah membangunnya dengan kerja keras, aku tetap menerobos menembusnya.  Merusaknya.  Kupikir aku telah berhasil menembus batas itu ketika aku mulai melihatmu lagi. Hatiku dipenuhi awan ketika mendengarmu lagi.  Kupikir akan mudah mulai bicara lagi padamu, karena aku sudah melatihnya berulang-ulang selama ini.  Ternyata tidak. 
Sosokmu adalah sama, tapi tidak pribadimu.  Matamu adalah sama,  tapi tidak tatapanmu.  Bibirmu adalah sama, tapi tidak senyumanmu.  Langkahku terhenti tepat di hadapanmu, tapi kau seolah bermil mil jauhnya dariku.  

Ada lubang besar menganga di jiwaku.   
Aku patah hati.  Aku marah pada diriku sendiri.  Aku ingin mengatakan betapa aku sayang.  Aku cinta.  Aku ingin kamu kembali.  Tapi aku tak bisa. 
Aku patah hati..  Aku mundur.  Kembali ke belakang batasmu yang telah kuhancurkan.  Lalu mulai menyusun  ‘batas’ku sendiri.  

Bukan saja agar kau tak bisa masuk kesini., tapi agar aku tak nekat menerobos ke duniamu lagi.


~J



No comments:

Post a Comment

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...