Saturday, June 1, 2013

We live in a different way


Sejak detik pertama melihatmu kembali, dengan sangat sadar aku mengenali apa yang masih kurasakan padamu.  Aku melihat kilatan matamu ketika menatapku, meski hanya sekian detik.  Dan aku tahu pasti apa yang berusaha kau sembuyikan di balik kelopak matamu yang kau tutup lebih lama dari yang sewajarnya orang berkedip, sebelum kau buka kembali matamu dan mengubah ekspresi wajahmu.  Kau merasakan hal yang sama denganku.

Delapan tahun, nyatanya tak mampu menghapus apa yang pernah terjadi pada kita.  Dan pertemuan ini seperti api di bibir gentong berisi penuh bensin yang terbuka tutupnya.  Beranikah aku menjatuhkan api ini ke dalamnya dan terhempas oleh ledakan perasaan yang selama sekian tahun kutahan? Bagaimana denganmu, sayang? Beranikah kau?

Perbedaan, yang dulu selalu kau kemukakan sesering kau bernafas sebagai alasan bagi kita untuk berpisah, apakah sekarang masih menjadi kain hitam yang menutup mata hatimu?  Kau tau pasti, aku tidak peduli dengan perbedaan itu.  Aku juga tidak peduli dengan perkataan orang tentang betapa tidak baiknya hubungan kita.  Ah, jangankan orang lain, bahkan jika orang tuamu yang berteriak di depan wajahku bahwa perbedaan ini tidak akan membawa hubungan kita kemana-mana, itu tidak sedikit pun memberi pengaruh  pada perasaanku.  Aku mencintaimu, dan aku tau kau mencintaiku.  Kurasa itu cukup.

Namun kau menangis ketika itu.  Airmatamu membasahi bahuku ketika kau memelukku.   Kau tak kuasa melihat orangtuamu tersakiti mengetahui hubungan kita.  Airmatamu menetes ketika kau menyapukan bibirmu di bibirku sambil berkata kau sangat mencintaiku.  Kau mulai berfikir sama seperti mereka, bahwa hubungan kita adalah hubungan yang tidak mungkin.

Kau menangis.  Meskipun, demi Tuhan, aku tak peduli dengan apapun pendapat dari siapapun yang telah membuatmu menangis, aku tidak tahan melihatmu menderita seperti itu.  Aku memilih menyiksa diriku sendiri dengan bertanya padamu “Apa inginmu?”. Aku memberimu pedang tajam yang dengan sukses kau hujamkan tepat di jantungku dengan jawaban yang sudah aku ketahui.  Karena aku tahu dengan seribu persen keyakinan bahwa kau menginginkan perpisahan.  

Kau menangis, tapi kau akan baik-baik saja setelah melihat orang tuamu tersenyum.  Aku menerima keinginanmu, karena sejak awal kau pun tahu, aku tak mungkin pernah bisa menolak keinginanmu.  Berpisah.  Aku pergi.

Dan setelah delapan tahun, sebuah kebetulan mempertemukan kita kembali.  Kau tau yang kupikir? Tuhan punya selera humor yang aneh jika terkait dengan nasib percintaanku.  Tahun-tahun berlalu dan kulewati tanpa sedetikpun kehilangan rasaku padamu.  Wanita lain, bukannya aku tak mecoba untuk membuka hatiku untuk orang lain.  Namun semua berakhir berantakan.  Bagaimana tidak, jika dalam hatiku selalu membandingkan mereka denganmu.  Pada akhirnya aku hanya menjadi seorang berengsek bagi mereka.  Hampir setiap hal mengingatkanku padamu, meskipun sesuatu yang sepele sekalipun. Aku merindukanmu setengah mati.  Namun begitu, sebesar apapun keinginanku untuk melihat dan memelukmu, aku berdoa agar Tuhan tidak mempertemukan aku lagi denganmu.  Kau tau apa alasannya kan?  Seperti pecandu narkoba yang ingin lepas dari kebutuhannya.  Aku takut terjerumus lagi dan tak mampu mengendalikan diri.

Dan diantara semua ketakutanku, Tuhan memberiku pertemuan ini.  Kau terlihat sama mempesonanya dengan yang terakhir kuingat.  Cantik dengan rambut hitam panjangmu.  Kau tak pernah ingin berganti model rambut, ya? Panjang, seperti yang kau tau, aku sukai.  Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku.  Candu yang sekian lama aku hindari digoyang-goyangkan di depan hidungku.  Bagaimana mungkin aku tidak menghirupnya.  Aku melihatmu, seperti professor yang memeriksa obyek penelitiannya di bawah mikroskop.  Dan kau terlihat sempurna

Meskipun aku membiarkan mataku menyembuhkan kerinduannya, aku berusaha keras mengendalikan mulut dan tubuhku agar tidak bertindak liar menuruti keinginan terpendamku.  Jadi aku hanya dengan sopan mengulurkan tangan dan menanyakan kabarmu.  Dan kamu, terlihat berusaha keras untuk tidak menatap mataku.  Apakah ada yang kau sembunyikan?  Rasa rindu itu terpancar jelas dari matamu, sayang.  Aku sangat mengenalinya karena aku yakin itu jugalah yang terpancar dari mataku.  Hanya saja aku tidak merasa perlu menyembunyikannya.  

Api yang tadinya kupikir sangat siap aku jatuhkan dalam gentong penuh bensin, ternyata aku  tak berani melakukannya.  Meski matamu tak bisa berbohong, tapi sikapmu terlihat tidak nyaman. Kau membalas jabatan tanganku dan dengan kaku mengatakan bahkwa kau baik-baik saja.  Kau menolehkan kepalamu ke arah belakangmu terlalu sering.  Seolah kau sedang menunggu seseorang.  Ah.. mungkinkah..?

Kemudian seolah kau telah menemukan yang kau cari, dengan cepat kedua tanganmu menarik dan menggenggam lembut kedua tanganku. Tak seperti sebelumnya, matamu memandang mataku dalam-dalam.  Kulihat berbagai emosi di matamu, dan terdapat air tergenang di dalamnya. Seolah kau ingin mengatakan sesuatu?

Secepat kau menarik tanganku, dengan cepat pula kau melepaskan gengganmanmu begitu saja.  Lalu kau berbalik.  Seorang pria mendekatimu, dan dengan mesra merangkulkan lengannya pada bahumu sambil tangan yang satunya mengacak rambutmu.  

Oh Tuhan, candaan apa lagi ini?

Kosong.  Kepalaku mendadak kosong dan telingaku seolah tuli tak mendengar apapun kecuali detak jantungku yang menguat.  Mulutku membuka ingin mengatakan sesuatu namun akhirnya menutup kembali karena aku tak tahu apa sebenarnya yang ingin aku katakan.  Bahkan dari ribuan makian yang kuhapal, tak satupun muncul di pikiranku.  Kosong.  

Kalian berdua tepat di hadapanku sekarang.  Mataku langsung terhenti pada kalung yang menggantung  di leher pria itu lalu beralih pada lehermu.  Bandul yang sama.  Bandul yang dulu pernah kau minta aku untuk memakainya, dan aku tak bisa.  Kau menginginkan bandul yang sama, meskipun menurutku tidak masalah jika kita mengenakan bandul yang berbeda. 

Aku tercabut paksa dari dunia kosong yang entah berapa menit sebelumnya kuhuni ketika tiba-tiba pria itu mengulurkan tangan dan mengenalkan diri sebagai tunanganmu.  Kubalas jabatan tangan pria itu dengan sama kuatnya dan menyebut namaku sendiri.  Wajahmu terlihat murung.  Apakah kau sedang memikirkan bagaimana perasaanku saat ini? Apakah kau merasa kasihan padaku? 

Please don't!

Sungguh,meskipun aku ingin mengutuk situasi ini dengan tumpukan alasan, aku tidak ingin melihat wajah sedihmu karena hal ini.  Dan meskipun aku ingin protes kepada Tuhan karena bercandaannya terasa tidak lucu sekarang ini, kupikir Dia punya maksud baik untukku di balik kejadian ini.  

Lihat aku sayang. Aku akan membuatmu tersenyum dan menghapus murung itu dari wajahmu meskipun aku harus bunuh diri sekali lagi.  Melawan keinginanku untuk menyingkirkan tangan pria itu dari bahumu dan menjauhkannya dari tubuhmu, aku mengucapkan selamat atas pertunangan kalian dan meminta kalian berjanji untuk mengundangku nanti pada acara pernikahan kalian.  

Kau akan lihat sayang, aku akan baik-baik saja.  

Rasanya aku mulai tau apa maksud Dia memberiku situasi kacau ini.  Tak akan mudah dan aku tahu sangat sulit untuk betul-betul memahaminya, but I got it God.


~j

1 comment:

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...