Sejak detik pertama melihatmu
kembali, dengan sangat sadar aku mengenali apa yang masih kurasakan
padamu. Aku melihat kilatan matamu
ketika menatapku, meski hanya sekian detik.
Dan aku tahu pasti apa yang berusaha kau sembuyikan di balik kelopak
matamu yang kau tutup lebih lama dari yang sewajarnya orang berkedip, sebelum
kau buka kembali matamu dan mengubah ekspresi wajahmu. Kau merasakan hal yang sama denganku.
Delapan tahun, nyatanya tak mampu
menghapus apa yang pernah terjadi pada kita.
Dan pertemuan ini seperti api di bibir gentong berisi penuh bensin yang
terbuka tutupnya. Beranikah aku
menjatuhkan api ini ke dalamnya dan terhempas oleh ledakan perasaan yang selama
sekian tahun kutahan? Bagaimana denganmu, sayang? Beranikah kau?
Perbedaan, yang dulu selalu kau
kemukakan sesering kau bernafas sebagai alasan bagi kita untuk berpisah, apakah
sekarang masih menjadi kain hitam yang menutup mata hatimu? Kau tau pasti, aku tidak peduli dengan
perbedaan itu. Aku juga tidak peduli
dengan perkataan orang tentang betapa tidak baiknya hubungan kita. Ah, jangankan orang lain, bahkan jika orang
tuamu yang berteriak di depan wajahku bahwa perbedaan ini tidak akan membawa
hubungan kita kemana-mana, itu tidak sedikit pun memberi pengaruh pada perasaanku. Aku mencintaimu, dan aku tau kau
mencintaiku. Kurasa itu cukup.
Namun kau menangis ketika itu. Airmatamu membasahi bahuku ketika kau
memelukku. Kau tak kuasa melihat orangtuamu tersakiti
mengetahui hubungan kita. Airmatamu
menetes ketika kau menyapukan bibirmu di bibirku sambil berkata kau sangat
mencintaiku. Kau mulai berfikir sama
seperti mereka, bahwa hubungan kita adalah hubungan yang tidak mungkin.
Kau menangis. Meskipun, demi Tuhan, aku tak peduli dengan
apapun pendapat dari siapapun yang telah membuatmu menangis, aku tidak tahan
melihatmu menderita seperti itu. Aku
memilih menyiksa diriku sendiri dengan bertanya padamu “Apa inginmu?”. Aku memberimu pedang tajam yang dengan sukses kau hujamkan tepat di
jantungku dengan jawaban yang sudah aku ketahui. Karena aku tahu dengan seribu persen keyakinan bahwa kau menginginkan perpisahan.
Kau menangis, tapi kau akan
baik-baik saja setelah melihat orang tuamu tersenyum. Aku menerima keinginanmu, karena sejak awal
kau pun tahu, aku tak mungkin pernah bisa menolak keinginanmu. Berpisah.
Aku pergi.
Dan setelah delapan tahun, sebuah
kebetulan mempertemukan kita kembali. Kau tau yang kupikir? Tuhan punya selera humor
yang aneh jika terkait dengan nasib percintaanku. Tahun-tahun berlalu dan kulewati tanpa sedetikpun
kehilangan rasaku padamu. Wanita lain,
bukannya aku tak mecoba untuk membuka hatiku untuk orang lain. Namun semua berakhir berantakan. Bagaimana tidak, jika dalam hatiku selalu
membandingkan mereka denganmu. Pada
akhirnya aku hanya menjadi seorang berengsek bagi mereka. Hampir setiap hal mengingatkanku padamu,
meskipun sesuatu yang sepele sekalipun. Aku merindukanmu setengah mati. Namun begitu, sebesar apapun keinginanku
untuk melihat dan memelukmu, aku berdoa agar Tuhan tidak mempertemukan aku lagi
denganmu. Kau tau apa alasannya
kan? Seperti pecandu narkoba yang ingin
lepas dari kebutuhannya. Aku takut
terjerumus lagi dan tak mampu mengendalikan diri.
Dan diantara semua ketakutanku,
Tuhan memberiku pertemuan ini. Kau
terlihat sama mempesonanya dengan yang terakhir kuingat. Cantik dengan rambut hitam panjangmu. Kau tak pernah ingin berganti model rambut,
ya? Panjang, seperti yang kau tau, aku sukai.
Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku. Candu yang sekian lama aku hindari
digoyang-goyangkan di depan hidungku.
Bagaimana mungkin aku tidak menghirupnya. Aku melihatmu, seperti professor yang
memeriksa obyek penelitiannya di bawah mikroskop. Dan kau terlihat sempurna
Meskipun aku membiarkan mataku
menyembuhkan kerinduannya, aku berusaha keras mengendalikan mulut dan tubuhku
agar tidak bertindak liar menuruti keinginan terpendamku. Jadi aku hanya dengan sopan mengulurkan tangan dan menanyakan kabarmu. Dan kamu, terlihat berusaha keras untuk tidak menatap mataku. Apakah ada yang kau sembunyikan? Rasa rindu itu terpancar jelas dari matamu, sayang. Aku sangat mengenalinya karena aku yakin itu jugalah yang terpancar dari mataku. Hanya saja aku tidak merasa perlu menyembunyikannya.
Api yang tadinya kupikir sangat siap aku jatuhkan dalam gentong penuh bensin, ternyata aku tak berani melakukannya. Meski matamu tak bisa berbohong, tapi sikapmu terlihat tidak nyaman. Kau membalas jabatan tanganku dan dengan kaku mengatakan bahkwa kau baik-baik saja. Kau menolehkan kepalamu ke arah belakangmu terlalu sering. Seolah kau sedang menunggu seseorang. Ah.. mungkinkah..?
Kemudian seolah kau telah menemukan yang kau cari, dengan cepat kedua tanganmu menarik dan menggenggam lembut kedua tanganku. Tak seperti sebelumnya, matamu memandang mataku dalam-dalam. Kulihat berbagai emosi di matamu, dan terdapat air tergenang di dalamnya. Seolah kau ingin mengatakan sesuatu?
Secepat kau menarik tanganku, dengan cepat pula kau melepaskan gengganmanmu begitu saja. Lalu kau berbalik. Seorang pria mendekatimu, dan dengan mesra merangkulkan lengannya pada bahumu sambil tangan yang satunya mengacak rambutmu.
Oh Tuhan, candaan apa lagi ini?
Kosong. Kepalaku mendadak kosong dan telingaku seolah
tuli tak mendengar apapun kecuali detak jantungku yang menguat. Mulutku membuka ingin mengatakan sesuatu
namun akhirnya menutup kembali karena aku tak tahu apa sebenarnya yang ingin
aku katakan. Bahkan dari ribuan makian
yang kuhapal, tak satupun muncul di pikiranku.
Kosong.
Kalian berdua tepat di hadapanku sekarang. Mataku langsung terhenti pada kalung yang menggantung di leher pria itu lalu beralih pada lehermu. Bandul yang sama. Bandul yang dulu pernah kau minta aku untuk memakainya, dan aku tak bisa. Kau menginginkan bandul yang sama, meskipun menurutku tidak masalah jika kita mengenakan bandul yang berbeda.
Aku tercabut
paksa dari dunia kosong yang entah berapa menit sebelumnya kuhuni ketika tiba-tiba pria itu mengulurkan tangan dan mengenalkan diri sebagai tunanganmu. Kubalas jabatan tangan
pria itu dengan sama kuatnya dan menyebut namaku sendiri. Wajahmu terlihat murung. Apakah kau sedang memikirkan bagaimana perasaanku saat ini? Apakah kau merasa kasihan padaku?
Please don't!
Sungguh,meskipun aku ingin mengutuk situasi ini dengan tumpukan alasan, aku tidak ingin melihat wajah sedihmu karena hal ini. Dan meskipun aku ingin protes kepada Tuhan karena bercandaannya terasa tidak lucu sekarang ini, kupikir Dia punya maksud baik untukku di balik kejadian ini.
Lihat aku sayang. Aku akan membuatmu tersenyum dan menghapus murung itu dari wajahmu meskipun aku harus bunuh diri sekali lagi. Melawan keinginanku untuk menyingkirkan tangan pria itu dari bahumu dan menjauhkannya dari tubuhmu, aku mengucapkan selamat atas pertunangan kalian dan meminta kalian berjanji untuk mengundangku nanti pada acara pernikahan kalian.
Kau akan lihat sayang, aku akan baik-baik saja.
Rasanya aku mulai tau apa maksud Dia memberiku situasi kacau ini. Tak akan mudah dan aku tahu sangat sulit untuk betul-betul memahaminya, but I got it God.
~j
~j
almost like my story :)
ReplyDelete