Belakangan ini aku mulai menyadari harga yang telah kubayar selama beberapa lama aku menyendiri. Dengan berlalunya waktu, aku terlalu terbiasa hidup sendiri. Namun akhir-akhir ini aku mulai merasakan adanya perbedaan. Perbedaan yang menjadi sangat jelas tepat saat aku sadar bahwa aku tak lagi suka sendiri seperti aku suka ketika aku bersama dengan orang lain. Itulah ketika kesendirian berubah menjadi kesepian.
Aku menyukai kesendirian. Bukan berarti aku membenci keramaian. Ada rasa
nyaman dalam sendiriku, yang tidak aku dapatkan ketika jika aku berada bersama orang lain. Aku selalu menyendiri dan mulai terlalu
terbiasa dengan kesendirian itu. Hingga lalu
dia datang.
Dia seperti berember-ember cat warna-warni
yang ditumbahkan ke atas langitku yang kelabu.
Yang kemudian cerianya mengalir ke bawah, meresap hingga celah-celah
bumiku yang tak terlihat. Aku tidak
pernah mengetahui bahwa berbicara pada manusia lagi terasa seenak ini. Aku bukan orang yang suka bicara, tapi aku
merasa tatapanya begitu istimewa ketika memperhatikan hal yang keluar dari
mulutku. Bahkan yang paling sepele sekalipun. Meskipun sangat sedikit, aku tak lagi begitu takut berkata-kata.
Hal lain yang aku telah begitu lama tidak melakukannya. Tertawa.
Dia, wanita bertubuh kecil yang memiliki selera humor yang aneh yang
seolah tak pernah kehabisan ide yang selalu berhasil membuatku tertawa. Dan aku
mulai selalu memikirkan dia setiap kali aku rindu tertawa.
Dia membuatku menyadari hal yang kupikir aku tak mampu lagi melakukannya. Merasa. Ya, dia membuatku kembali merasa. Ada semacam nyeri dalam hati ketika aku merasa sangat ingin melihat atau mendengar suaranya. Atau sesuatu yang seperti jarum menusuk-nusuk hati ketika dia tertawa-tawa dan berada begitu dekat dengan pria lain, dan aku hanya bisa diam melihatnya.
Kemudian ada rasa lain.. yang lembut seperti gumpalan awan bertebaran dalam diri ketika kemudian dia mendekat dan tersenyum padaku.. mengatakan bahwa dia rindu. Sebuah kata keramat yang bagiku membutuhkan usaha keras demi untuk dapat mengucapkannya.. dan dia menyampaikannya dengan seringan kapas. Ah, aku iri padanya.. andai aku bisa seterbuka itu.
Dan satu yang tak dapat kuabaikan.. rasa yang sangat-sangat menggangguku.. Kuingat ketika ia berlari-lari kecil menyusulku, meraih tangan kananku. Ia genggam telapak tanganku dengan jemarinya yang hangat dan ia peluk lenganku erat-erat. Ada rasa terbakar ketika tubuhnya terasa begitu dekat denganku. Dan wanginya tak juga hilang bahkan ketika akhirnya ia berlalu pergi. Argh.. Aku tak mengerti.. rasa apa ini..
Satu hal yang kusadari kini. Aku tak lagi suka sendiri.
~J

No comments:
Post a Comment