Kedua tanganku menggapai-gapai area di sekelilingku, berharap menemukan sesuatu untuk kuraba. Namun aku hanya menampar udara. Aku tak menemukan apapun, kecuali kosong. Hampa.
Hanya lantai tempatku berpijaklah satu-satunya benda solid yang bisa kugapai. Aku berlutut dan mulai meraba-raba dengan putus asa, seolah lantai itulah satu-satunya temanku. Namun tiba-tiba lantai dingin itu tak lagi berwujud padat. Aku merasa seolah menyentuh permukaan air. Sebelum aku sempat menarik tanganku, lantai cair itu menyedot tubuhku dan membuatku berputar-putar seperti poros gangsing. Hitam itu tak lagi hitam. Warna putih mulai muncul seperti susu kental yang dituang ke dalam kopi.
Kepalaku mulai pusing dan aku mulai merasa ingin muntah. Aku bertanya-tanya, dimana dasar itu? Kapan putaran yang menyiksa ini akan berakhir?
Seolah menjawab pertanyaanku, punggungku seolah menyentuh benda empuk, seperti kasur pegas. Hitam putih yang mengelilingiku mulai berubah bentuk seperti helaian-helaian benang. Bergerak seperti ombak. Aku menatap dua titik putih di kejauhan yang mendekat dengan kecepatan tinggi lalu berhenti tepat di depan wajahku.
Tercekit hingga sulit bernafas, mataku nyalang melihat sekelilingku. Nafasku ngos-ngos-an seperti habis maraton berkilo-kilo meter. Mimpi itu lagi.
Tercekit hingga sulit bernafas, mataku nyalang melihat sekelilingku. Nafasku ngos-ngos-an seperti habis maraton berkilo-kilo meter. Mimpi itu lagi.


No comments:
Post a Comment