Friday, November 15, 2013

Ujung Pelangi

Dari jauh aku melihatnya menari, memetik bunga dan berlari
Membelah ladang ilalang dan membelai ujung-ujungnya
Tawanya memecah sunyi. Hatiku nyaris retak bahagia mendengarnya

Suatu hari dia mendekat dan menatapku dengan mata cokelatnya.
Berkata, maukah aku menemaninya.  Kepalaku hampir terpisah dari leher, mengangguk dengan terlalu bersemangat. Seolah menemukan keping hatiku yang pernah hilang kembali.  Aku sangat mau

Tak hanya memandangi dari jauh, kini aku menari bersamanya.
Membelai ilalang, menjemput hujan.  Menangkap matahari, membentuk awan.
Dia bahagia, katanya suatu hari.  Aku pun begitu, pikirku.
Dia tak sendiri lagi, katanya lagi.  Ah, begitu pula diriku.


Waktu berjalan dan berlalu..
aku mulai menyadari, dia tak pernah berhenti berlari atau menari.
Bahwa langkahku tak mampu menyamainya, itu pun mulai kusadari
Kadang aku berhenti, dan dia tersenyum.. seolah mengerti.
Kadang aku menjauh, dan dia menatapku.. seolah mengerti.


Pada suatu perjalanan, sambil terengah lelah aku bertanya padanya
"Gadis, tidakkah kau ingin sejenak berhenti?"
Rambut panjangnya bergerak bersama gelengan kepalanya.
"Gadis, apa yang kau cari? Katakanlah padaku, akan kutemukan untukmu"
Lembut ujung jemarinya lembut menyentuh wajahku, tatapannya meredup

"Ujung pelangi" Jawabnya sendu

Tangannya menggenggam tanganku, mengecup punggunggnya dan melepaskannya perlahan.  Dia membalikkan tubuhnya, dan mulai menjauh.

Kakiku tertahan pada tanah tempatku berdiri.  Aku tak tau di mana itu ujung pelangi yang ia cari.  Aku juga tak tahu, apakah aku masih mampu menemani.

Aku hanya diam membeku.
Melihat punggungnya yang kian menjauh.
Lalu menghilang.




~J


No comments:

Post a Comment

Dompet Untuk Ibu

  Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berd...